Pilihan Cerdas “Jenderal Kardus”


[ A+ ] /[ A- ]

Oleh, Effendy Asmara Zola

“IJTIMA Gerakan Pengawal Fatwa Ulama (GNPF) dan sejumlah tokoh nasional, Minggu 27 Juli 2018) di Jakarta, yang merekomendasikan Habib Salim Said Aljufri dan atau Ustadz Abdul Somad sebagai Cawapres pendamping Capres Prabowo Subianto, mustahil tak  membuat anteng mesin politik calon pertahana, Presiden Joko Widodo (Jokowi).”

 TIDAK ADA yang pasti di dalam politik konon pula harga mati, apalagi hanya ‘sekadar’ rekomendasi. Demikian pula dengan Prabowo, kalau ada yang lebih baik dari dirinya, why not?

Namun penolakan Ustadz Abdul Somad yang istiqamah, ingin tetap menggeluti bidang dakwah dan berkiprah sebagai dosen, bukan mustahil ditanggapi hanya merupakan basa-basi. Mana ada orang yang menolak ‘kursi’ yang dicari-cari dan dikejar-kejar? Apalagi diberi dan terima jadi. “Tidak kampanye saja saya banyak pendukung,” seloroh Abdul Somad di sela salah satu ceramahnya.

Diriwayatkan dari Abdurrahman bin Samurah, ia berkata: “Nabi SAW bersabda, ‘Wahai Abdurrahman bin Samurah, janganlah engkau meminta kekuasaan, karena sesungguhnya jika engkau diberi kekuasaan karena memintanya, engkau akan dibebani dalam menjalankan kekuasaan tersebut. Dan jika engkau diberi kekuasaan tanpa memintanya, engkau akan ditolong dalam menjalankannya,” (Al-Bukhari ra).

Yakin, Salim Segaf Aljufri diam menungu, ulama mantan Menteri Sosial di era Susilo Bambang Yudoyono (SBY) ini berada di … ‘dan jika engkau diberi kekuasaan tanpa memintanya, engkau akan ditolong dalam menjalankannya.’

Bagi Presidean Jokowi yang disebut Megawati (Ketum PDI-P) sebagai petugas partai, penolakan Ustadz Abdul Somad mau basa basa-basi atau berisi nampak disikapi hati-hati.

Belajar dari kekuatan umat Islam pasca Aksi 212, Ijtima Ulama ‘cukup berbahaya’. Perahu koalisi 9 partai bisa-bisa mengapung kehilangan  penumpang. Cak Imin (Muhaimin Iskandar) yang sejak jauh-jauh hari begitu PD (percaya diri) bakal merasakan kursi RI-2, boleh dibilang gigit jari ketika deklarasi, Kamis (9 Agustus 2018) malam.

Sementara Mahfud MD yang digadang-gadang dapat meraup suara umat untuk menekan suara pilihan ijtima dan sudah bersiap-siap, merasa terkejut dengan pilihan Jokowi yang memunculkan KH Ma’ruf Amin (Ketua Umum MUI Pusat).

“Saya tidak kecewa, cuma kaget saja,” kata Mahfud ketika dimenit-menit penentu pendeklarasian Cawapres. Kaget atau tak kecewa, perlu dicatat, bahwa Ketua Umum KAHMI Pusat  yang nasionalis religius ini punya tak sedikit pengikut. Apalagi sejumlah ulama di Madura telah membuat pernyataan terbuka beberapa hari sebelum deklarasi, mendukung Prabowo Subianto sebagai Capres.

Kita bisa melihat kalkulator cerdas Prabowo, dia tidak ke Ijtima GNPF tidak juga ke AHY (Agus Harimurti Yudhoyono) untuk Cawapres, Tapi menggaet Sandiaga Uno (Wkl Gubernur DKI), dalam deklarasi beberapa jam setelah deklarasi pertahana, Presiden Jokowi.

Dari sinilah muncul gelar Jenderal Kardus buat Prabowo yang dilontarkan oleh Andi Arif, Wasekjen Partai Demokrat. Kali ini yang kaget adalah grass root kelas diskusi warung kopi seperti saya yang bukan politisi atau elite apa pun. Begitu gampang dan gamblang seorang petinggi partai enteng tudingan. Entah itu suara partai apa pribadi, wallahualam. Tak ada klarifikasi

Menurut pengakuannya, dirinya merasa geram, karena partainya (PD) yang diajak berkoalisi ‘diselingkuhi’ setelah pertemuan transaksional Prabowo (Gerindra) – SBY (PD), Selasa (24 Juli 2018) malam yang konon memberi harapan AHY bakal dicawapreskan.

Rupanya sang ‘politikus kardus’ tak bisa mengendus kecerdasan ‘Jenderal Kardus’. Kalaulah Prabowo merapat ke pilihan ijtima, bearti Ketum Gerindra ini telah mengadu ulama vs ulama, karena di seberang sana sudah ada ulama, KH Ma’ruf Amin. Ringkasnya, ini yang tak dikehendaki demi keutuhan umat, wabil khusus demi persatuan dan kesatuan bangsa dalam bingkai NKRI.

Usai deklarasi, dikabarkan Prabowo sowan ke SBY. Maka menjelang menit-menit akhir pendaftaran Capres-Cawapres ke KPU, usai Sholat Jumat (10 Agustus 2018), Demokrat resmi ikut mendukung Prabowo Subianto dan Sandiago Uno bersama Gerindra, PAN dan PKS, juga Partai Berkarya dan para petinggi koalisinya bersama menyaksikan pendaftaran di KPU.

“Kecewa dan sedih ada, tapi inilah takdir” ujar bijak AHY usai pendaftaran Prabowo-Sandi di KPU.

“Saya tak menyangka,” kata Sandi yang serasi bersama Anies Baswedan, Gubernur DKI.

Boleh jadi Sandiaga Uno tak menyangka dirinya bakal digaet Prabowo untuk Cawapres, tapi kalau dicermati kecerdasan sang ‘Jenderal Kardus’ sebenarnya sudah dapat dibaca ketika meminta kadernya ini untuk legowo berpasangan sebagai wakil saja dengan Anies Baswedan memimpin DKI.  Karena kelak ia (Sandiago Uno) diam-diam bakal dijadikan Wacapres.

Kabar burung bakal ada Ijtima Ulama jilid II, saya yakin tak akan menggoyang idjtihad para ulama untuk berjuang satu kapal besar bersama Prabowo-Sandiaga Uno membenahi perekonomian negara dalam pertarungan Prabowo-Jokowi jilid II, April 2019, karena seperti kata Habib Rizieq Shihab beberapa waktu yang lalu, “kita sudah tahu yang mana kawan yang mana lawan.” *BNTime

(Pontianak,100818)

(Visited 75 times, 1 visits today)

Comments are closed.