Ketika Mahfud MD Ditelikung Kawan Seiring, Menggunting dalam Lipatan


[ A+ ] /[ A- ]

Oleh, Effendy Asmara Zola

.

“Ditenggelamkannya nama Mahfud MD dimenit-menit terakhir jelang deklarasi Capres/Cawapres Jokowi (Joko Widodo), mengejutkan publik. Banyak yang menilai Mahfud telah dikadalin alias di PHP (pemberian harapan palsu) oleh partai koalisi pendukung pertahana Presiden Jokowi”

 TAK Heran jika dalam waktu relatif cepat setelah deklarasi Jokowi yang menggandeng Ma’ruf Amin, Kamis (9 Agustus 2018) malam, empati mengalir ke  mantan Ketua MK (Mahkamah Konstitusi) yang nasionalis religius itu. Saya cuma bisa mengurut dada, lebih-lebih setelah belakangan kepada awak media dengan diplomasinya Mahfud menyebut dirinya tak kecewa, hanya kaget saja.

 Dikutip dari portal berita Kahmi Jatim, Minggu (12 Agustus 2018), Koordinator Presidium Majelis Nasional Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) – Siti  Zuhro, mengaku heran dan tak percaya dengan keputusan mendadak dari gabungan partai politik pendukung Jokowi tersebut. Disaat Mahfud telah bersiap untuk mengikuti deklarasi.

“Di saat Mahfud sudah siap mengikuti acara deklarasi capres-cawapres sesuai jadwal yang telah ditentukan ternyata batal,” kata Wiwik, sapaan karibnya, Jumat (10/8-2018).

Wiwik menilai, persoalan integritas dan kapasitas dari Mahfud tidak perlu dipertanyakan lagi. Apalagi, mantan koordinator Presidium KAHMI itu tercatat pernah menjabat di tiga lembaga negara, eksekutif, legislatif dan yudikatif.

Oleh sebab itu, Wiwik menilai, sosok seperti Mahfud MD sangat layak jika menjadi cawapres.

“Beliau (Mahfud) memiliki semua persyaratan, kriteria dan kepantasan untuk menjadi cawapres. Selain memiliki integritas yang baik, beliau juga memiliki latar belakang akademis yang tidak diragukan, khususnya kepakarannya di bidang hukum,” terang Wiwik.

Wiwik mengakui, pengusungan capres-cawapres memang wewenang dari partai politik. Hanya saja, Ia meminta agar parpol juga bisa menjaga harkat dan martabat seorang tokoh.

“Hendaknyapara pimpinan parpol pengusung capres/cawapres dapat menghormati dan menjaga harkat dan martabat tokoh yang akan dicalonkan,” tutup dia.

Seperti diketahui, Jokowi memutuskan menggandeng KH Ma’ruf Amin sebagai cawapresnya. Padahal, sebelumnya nama Mahfud MD digadang-gadang sebagai kandidat terkuat mendampingi Jokowi. Meski demikian, Mahfud mengaku tak kecewa dengan keputusan Jokowi dan sembilan partai koalisi untuknya.

“Saya tidak kecewa, kaget saja, karena sudah diminta mempersiapkan diri, bahkan sudah agak detail,” kata Mahfud, saat wawancara di salah satu stasiun televisi.

Dalam urusan yang satu ini, focus perhatian orang ramai dari berbagai kalangan terus tertuju kepada panutan KAHMI dan HMI di seluruh tanah air itu.

Mahfud boleh saja legowo menyatakan ‘tidak sakit hati’, tapi publik yang merasakan ‘sakitnya tuh di sini,’ meminjam baris liryk sebuah lagu. Lebih-lebih ketika melihat dan mendengarkan ‘Kisah Sedih di Malam Rabu’, yang diungkapkan Mahfud di tayangan talk show ILC TVOne, Selasa (14/8-2018) malam.

Beberapa nama ia sebutkan dalam proses  untuk RI 2 yang menjadikan dirinya sebagai mainan politik.Di sana ada nama orang-orang lingkungan istana dan elite politik seperti Teten Masduki, Pratikno, Pramono Anung, Aqil Siraj, Muhaimin Iskandar, Romy (Romahurmuji) dan lain-lain, bahkan juga nama cawapres KH Ma’ruf Amin disebut Mahfud ada dalam lingkaran permainan.  

Dengan berbagai dalih politik begini begitu, wal ini wal itu, wal hantu,  pada akhirnya membuat Mahfud kecele. Dan baju pribadinya yang semula untuk dijadikan contoh baju putih cawapres dibiarkan tertinggal di Istana Negara, bukan Mahfudnya.

Dari ‘kisah sedih di malam rabu’ yang diceritakan Mahfud tersebut, sedikit banyak telah menyingkap tabir pat-gulipat menghadang Mahfud sebagai cawapres.   Betapa seorang tokoh saja bisa dengan dingin dipecundangi, apalagi rakyat jelata yang cuma bisa manggut-manggut bak burung beo ketika disodori janji-janji.  

“Ya, itulah permainan. Itulah realita politik, tidak-apa-apa,” ujar Mahfud, kader NU yang oleh Aqil Siraj dibuat bak habis manis sepah dibuang.

Sekarang tinggal Mahfud sendiri menentukan sikap agar tak terleceh kembali harkat dan martabat dirinya, agar tak dua kali dikadalin musuh dalam selimu yang menohok kawan seiring, menggunting dalam lipatan.*BNTime

Pontianak, kamis16082018

(Visited 27 times, 1 visits today)

Comments are closed.