Jokowi dalam Viral “Berani Berantem”


[ A+ ] /[ A- ]

 

Oleh, Effendy Asmara Zola

“Pemerintahan itu adalah ujud abstrak, namun nyata karena adanya yang memerintah dan yang diperintah.”

 KAPAN suatu pemerintahan terbentuk dan apa pun bentuk pemerintahannya, rakyat yang berdaulat telah bulat menyerahkan pengendalian roda pemerintahan kepada kepala pemerintahan atau kepala negara.

Kepala negara adalah imam bagi rakyat di negaranya setelah menjadi imam di dalam keluarganya sendiri. Imam yang didengar, disimak, dituruti

lisan dan langkahnya untuk membawa pengikutnya (rakyat) ke jalan lurus kemaslahatan.

Di dalam shalat berjamaah, jika imam keliru atau terlupa ayat lanjutan yang mesti dibacanya, maka makmum di saf terdekat di belakangnya akan mengingatkan dan meluruskan bacaan sebagaimana mestinya.

Ada hubungan horizontal antara imam dan makmum, ada hubungan horizontal antara kepala negara dengan segenap lapisan rakyatnya, vertical dalam struktur, namun perlu saling mendengar dalam kebersamaan dan keberagaman.

Ketika imam di negeri ini, Presiden Joko Widodo (Jokowi) keseleo lisan ‘berani berantem’ viral dalam berita dan media sosial, malah tak terima dengan mengatakan ‘jangan sepotong-sepotong’ membaca ucapannya.

Masih jadi pembicaraan ketika Presiden Jokowi di hadapan para relawannya di Sentul International Convention Center, Sabtu (4 Agust 2018), melarang relawannya untuk melakukan fitnah dan ujaran kebencian.

Sampai di situ bagus, elegan dan menuntun. Sayangnya Jokowi tak luput membumbui, bahwa relawannya juga harus berani ketika diajak untuk berantem.

Mulanya biasa saja, tapi soal ‘harus berani kalau diajak berantem’, ini mengundang banyak reaksi baik dari kalangan politisi, akademisi, apakan lagi respons warga net, dan viral di dunia maya. Boleh percaya boleh tidak, ini pun viral sampai ke lubuk hati. Betapa tidak, yang ngomong presiden kok. Bukan sembarang orang, bukan orang-orang kelas diskusi warung kopi seperti saya.

Supaya tulisan ini tak dianggap mengutip sepotong-sepotong dari sebuah narasi kepala negara yang dinilai telah menyorongkan kekerasan, konflik sosial, inilah selengkapnya;

“Lakukan kampanye yang simpatik. Tunjukan bahwa kita relawan yang bersahabat, jangan membangun permusuhan, jangan membangun ujaran-ujaran kebencian, jangan membangun fitnah-fitnah. Tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekan orang lain. Tapi kalau lo diajak berantem, juga berani,” kata Jokowi.

Sebenarnya pidato Presiden Jokowi itu boleh dibilang apik dan menuntun kendati mungkin ada yang disindir, jika cukup ditutup sampai ‘…..  tidak usah suka mencela, tidak usah suka menjelekan orang lain.’ Titik!

Boleh saja sedikit lebai dengan menambahkan; ‘kalau diajak berantem, cuekin saja, kita mengalah untuk menang’. Wah kalau bumbu ini yang disodorkan, apik tenan.

Maka jika banyak pihak yang mengkritisi entah politis entah tulus, wajar.

Ya itu tadi, yang ngomong adalah seorang presiden. Padahal di dalam ilmu mantik, konsep dasar berpikir logis, kalimat bumbu tadi bisa jadi boomerang karena ia bagian dari sebuah kalimat lengkap. Maklum, ini tahun politik yang tak jauh dari gelitik dan saling mengutak atik.

Jokowi pun sudah terlanjur diberi label ‘panik’ dalam posisi sebagai pertahana yang bakal maju lagi. Label panik kali pertama ketika menanggapi baju kaos #2019GantiPresiden. “Memang bisa kaos menganti presiden?” kata Jokowi dengan nada tinggi kala awal hastag tersebut muncul.

Andai Jokowi menanggapi “ora popo, sesok tak bikin #2019OgahGantiPresiden,” apik tenan, sejuk nian.

Sayangnya Jokowi terhanyut dalam kegalauan, sehingga Pak Presiden yang mantan Walikota Solo ini kehilangan identitas kehalusan dan kelembutan Wong Solo yang ketika kakinya terinjak bukan marah, malah minta maaf, “maaf mas, kaki saya keinjak.” Tidak mau berantem. Keren kan? *BNTime

(Pontianak, 7818)

(Visited 31 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.