Awas, Ini Tiga Daerah Paling Rawan pada Pilkada 2018


Ilustrasi(Net)
[ A+ ] /[ A- ]

Awas, Ini Tiga Daerah Paling Rawan pada Pilkada 2018:Salah satu upaya Bawaslu dalam memaksimalkan fungsi pencegahan adalah dengan mengeluarkan Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) Pilkada 2018 (PDF).”

PADA periode pemilu sebelumnya, Bawaslu telah menerbitkan IKP pemilu pileg/pilpres 2014, IKP Pilkada 2015, dan IKP Pilkada 2017. IKP Pilkada 2018 adalah upaya Bawaslu dalam melakukan pemetaan dan deteksi dini terhadap segala potensi pelanggaran dan kerawanan untuk kesiapan menghadapi Pilkada Serentak 2018.

Kerawanan adalah berbagai hal yang punya potensi mengganggu atau menghambat proses pemilihan yang demokratis. Penilaian menggunakan tiga aspek utama, yaitu dimensi penyelenggaraan, dimensi kontestasi, dan dimensi partisipasi. Penilaian akhir atas peringkat indeks kerawanan dikelompokkan menjadi tiga, yaitu Kerawanan Rendah (0-1,99), Kerawanan Sedang (2,00-2,99), dan Kerawanan Tinggi (00-5,00).

Pilkada 2018 digelar serentak di 17 provinsi dan 154 kabupaten/kota. Dari 17 provinsi, tiga provinsi masuk dalam kategori kerawanan tinggi dan 14 provinsi memiliki kerawanan sedang. Tiga provinsi dengan kategori tinggi tersebut adalah Papua dengan skor indeks 3,41; Maluku dengan skor 3,25; dan Kalimantan Barat dengan skor 3,04. Di sisi lain, Jawa Tengah, yang masuk dalam kategori kerawanan sedang, menempati peringkat terbawah dengan indeks sebesar 2,15.

Tingginya kerawanan di Papua, menurut Bawaslu, disebabkan adanya kasus korupsi dana pilgub yang melibatkan ketua dan anggota Bawaslu Papua pada pilkada sebelumnya. Kasus korupsi juga menimpa anggota KPU Papua, sehingga DKPP mengeluarkan putusan pemberhentian terhadap yang bersangkutan. Selain itu juga ditemukan praktik politik uang di Wamena.

Sementara itu, di Maluku kerawanan tinggi disebabkan adanya penyelenggara (dengan nilai indeks dimensi penyelenggara 3,47) melanggar kode etik tentang netralitas terkait asas mandiri, jujur, adil, dan profesionalitas pada Pilkada 2017, perusakan fasilitas penyelenggara, serta kekerasan fisik dan intimidasi terhadap penyelenggara.

Kalbar Rawan karena Kuatnya Kontestasi

Di Kalimantan Barat, sebab utama kerawanan tinggi ada pada dimensi kontestasi—tertinggi dari seluruh provinsi sebesar 3,48. Temuan KPU menyatakan bahwa seluruh variabel dalam dimensi kontestasi terbilang tinggi, khususnya pada variabel kampanye (4,33) dan variabel kontestan (4,00). Penyebabnya adalah kampanye-kampanye bermuatan SARA, hoaks, fitnah, dan adu domba yang terjadi pada pemilu sebelumnya.

Bila dicermati, penyebab dari tingginya kerawanan pada tiga provinsi tersebut adalah rendahnya integritas dan profesionalitas penyelenggara (khususnya berkaitan dengan politik uang), jamaknya kampanye bermuatan SARA, politik identitas, dan hoaks, serta minimnya perlindungan terhadap hak pilih.

Tingginya tingkat kerawanan dalam pilkada memunculkan ketegangan sosial di masyarakat, dampak ekstremnya adalah memungkinkan konflik antar-kelompok. Tak hanya itu, kecurangan yang terjadi dalam penyelenggaraan pemilu menunjukkan hilangnya legitimasi pemilu dan rendahnya integritas serta akuntabilitas pemerintah.

Penegakan terhadap tindak pidana pemilu harus semakin ditingkatkan mengingat faktanya bahwa kejahatan pemilu dari pemilu ke pemilu juga semakin meningkat. Demi tercapainya penyelenggaraan pilkada yang demokratis dan tertib hukum, pengawasan terhadap jalannya pilkada harus dikawal oleh semua pihak. Setidaknya, upaya ini memperkecil peluang terpilihnya kepala daerah yang berkinerja buruk dan tak berintegritas. *BNTime/ti

(Visited 29 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.