Teror Bom Berantai, Ketum HMI Angkat Bicara: Kapolri dan BIN Sepantasnya Mundur


Ketum PB HMI 2018-2020 Saddam Aljihad (tengah) /Foto:doc/istimewa
[ A+ ] /[ A- ]

logo-bnt-Ketua Umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Respiratori Saddam Al Jihad meminta agar aparat keamanan serius menangani masalah aksi terorisme berantai di Surabaya Jawa Timur.”

PB HMI menyoroti insiden terjadinya penyerangan di tiga gereja di Surabaya, Minggu (13/5-2018) pagi, yang kemudian disusul ledakan bom di sebuah Rusunawa Sidoarjo.

Selanjutnya, pada Senin, (14/5-2018) pagi, penyerangan teror bom kembali terjadi tepat di depan pintu gerbang markas Kepolisian, di Mapolrestabes Surabaya.

Menurut Saddam, jika peristiwa teror semacam ini terus terjadi, Kepolisian, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Badan Intelijen Negara (BIN) harus bertanggungjawab.

“Saya kira saat aksi teror terulang terus, disinilah bukti kegagalan aparat keamanan dalam menjaga kedamaian. Pimpinan tertinggi pihak-pihak yang bersangkutan pantas mundur dari jabatannya jika ada ledakan bom lanjutan,” kata mahasiswa program S3 IPDN Jatinangor itu.

Ia mengingatkan, bahwa stabilitas politik sangat penting. Sebab, menurutnya, aksi teror bukan hanya membuat resah masyarakat dan bukan hanya soal statistik jumlah korban, tetapi juga sangat mengganggu iklim perekonomian nasional.

Dijelaskan Saddam, saat kondisi dalam negeri dirasa tidak aman, maka beresiko menurunkan kepercayaan investor dan modal bisa keluar dari dalam negeri.

“Reformasi sistem keamanan mendesak dilakukan. Pengelolaan keamanan masih sangat lemah. UU Kamnas perlu diperiksa lagi,” ujarnya.

Selanjutnya, Wasekjen PB HMI, Galih Prasetyo mengingatkan, jangan sampai publik melihat rentetan kasus teror ini bagian dari skenario yang dimanfaatkan oleh oknum berkepentingan sebagai pra kondisi untuk menyiptakan agenda tertentu. Sangat disayangkan rakyat tidak berdosa menjadi korban.

“Hentikan drama kemanusiaan ini, jangan korbankan rakyat, maka aparat keamanan harus segera membongkar dan mengadili secara terbuka agar di antara sesama anak bangsa tidak muncul rasa saling curiga,” ujarnya.

Menurut Galih, terorisme sangat berbahaya, mengancam keutuhan bangsa dan Pancasila. Instabilitas politik dan keamanan berdampak luas bagi segala dimensi bernegara.

“Aksi teror ini harus dihentikan sebab bisa memicu kegaduhan sosial,” pungkasnya. *BNTime/tsc        



Komentar anda:

komentar



(Visited 1 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *