Mubalig di Indonesia Tak Pernah Lahir dari Negara


[ A+ ] /[ A- ]

logo-bnt-“Menteri Agama Lukman Hakim telah sukses membuat kegaduhan dengan merekomendasikan 200 ulama/mubalirg pilihan pemerintah. Beragam reaksi miring disemprotkan ke Menag era pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ini, lebih-lebih kebijakan tersebut dikeluarkan di tahun politik dan pasca rangkaian teror bom bunuh diri di tanah air.”  (Red. BNTime)

PENGAMAT Politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno mengatakan, selama ini tradisi mubalig di Indonesia tumbuh secara alami dan natural.

Sebutan kyai maupun ustadz disematkan masyarakat kepada perseorangan berdasarkan peran dan kontribusinya di masyarakat, baik melalui tutur kata maupun perbuatan mereka. Seperti menyampaikan kebaikan.

“Makanya, ketika ada rilis 200 mubalig, wajar gaduh karena dari dulu sebutan ustad, khatib, mubalig, tidak pernah lahir dari Negara. Mereka yang mendapat sebutan mubalig rata-rata selain dinilai saleh, juga memiliki pesantren dan masjid.  Mereka adalah mubalig yang tinggal di sekitar masyarakat,” kata Adi kepada wartawan di Jakarta, Minggu (27/5/2018).

Kendati demikian, lanjut Adi, pemerintah tidak sepenuhnya salah menerbitkan rilis tersebut. Mengingat, masih banyak sisa konflik Pilpres 2014 dan Pilkada DKI Jakarta yang tak kunjung selesai, termasuk isu agama.

Hanya saja, kata dia  pemerintah cuma perlu mengatur kriteria mubalig yang ingin dijadikan sebagai narasumber.

“Sebab seorang mubalig harus mempunyai kompetensi keagamaan, ini penting untuk menjawab keraguan bahwa sekarang banyak yang belajar agama dari Youtube, film, Facebook dan kemudian dianggap satu kebenaran yang tidak bisa ditafsirkan oleh mubalig lain. Ini yang disebut fenomena belajar agama tanpa masjid,” tutupnya. *BNTime/TS  Pita-bagikan

 

(Visited 13 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.