Menyoal Bom Surabaya, Syarifah Fitriani Ditangkap Polisi Kalbar


[ A+ ] /[ A- ]

logo-bnt-“Keberadaan Syarifah Fitriani Septiani Alhindiuan, heboh di media social telah ditangkap polisi karena postingannya di akun facebook miliknya, menyoal peristiwa Bom Surabaya sebagai rekayasa pemerintah terkait anggaran operasionil dan menenggelamkan isu ‘2019 ganti presiden’. Dia ditenggarai sebagai seorang guru di Kab.Kayong Utara, Kalimantan Barat.”

.

NETIZEN Edrucee Alaydrus berbagi dari akun FBnya dan menanyakan akurasi kebenaran penangkapan Bu Guru tersebut lengkap dengan foto dan postingan Fitriani Septiani Alhinduan; “Kepsek asal SMPN 9 Kayong Utara Kalbar dicyduk lantaran sttsnya mengenai bom Surabaya. Apakah Berita ini valid Om Bambang Widianto,” tulisnya bertanya. Dibalas oleh Bambang Widianto dari Pontianak “Ndak tau sy om.”

Terjawab dari detikcom Senin (14 Mei 2018) sore, bahwa seorang perempuan berinitial FSA diamankan polisi, lantaran menyebut tragedi serangan bom di Surabaya sebagai pengalihan isu pemerintah. FSA diciduk di sebuah rumah kos, Jl Sungai Mengkuang, Desa Pangkalan Buton, Sukadana, Kab.Kayong Utara, Kalimantan Barat.

“Ya, benar. Kami amankan yang bersangkutan,” kata Kabid Humas Polda Kalimantan Barat Kombes Nanang Purnomo ketika dimintai konfirmasi detikcom , Senin (14/5/2018).

Nanang mengatakan saat ini FSA masih menjalani pemeriksaan oleh petugas dan kasusnya akan diserahkan penyidik Polres Kayong Utara kepada Polda Kalimantan Barat.

“Saat ini yang bersangkutan masih diperiksa. Kasusnya akan ditangani Polda Kalbar,” ujar Nanang.

FSA ditangkap pada Minggu (13/5-2018) jam 16.00 WIB oleh personel Satuan Reskrim Polres Kayong Utara. Dalam akun Facebook-nya, FSA menulis status analisisnya, yaitu tragedi bom Surabaya adalah rekayasa pemerintah.

“Sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui. Sekali ngebom: 1. Nama Islam dibuat tercoreng ; 2. Dana trilyunan anti teror cair; 3. Isu 2019 ganti presiden tenggelam. Sadis lu bong… Rakyat sendiri lu hantam juga. Dosa besar lu..!!!” tulis FSA, sebagaimana dikutip dari akun Facebook FSA.

FSA juga menulis status tragedi Surabaya sebuah drama yang dibuat polisi agar anggaran Densus 88 Antiteror ditambah.

“Bukannya ‘terorisnya’ sudah dipindahin ke NK (Nusakambangan)? Wah ini pasti program mau minta tambahan dana anti teror lagi nih? Sialan banget sih sampai ngorbankan rakyat sendiri? Drama satu kagak laku, mau bikin draama kedua,” tulis FSA juga.

FSA terancam jerat Pasal 28 ayat 2 UU Informasi dan Transaksi Elektronik. “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA),” jelas Nanang.  *BNTime/detik



Komentar anda:

komentar



(Visited 6 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *