Bu Guru Syarifah Fitriani Belum Berstatus Tersangka Terkait Dugaan Hoax Bom Surabaya


Fitriani Alhinduan
[ A+ ] /[ A- ]

 

logo-bnt-“Syarifah Fitriani Septiani Alhinduan, Kepala Sekolah salah satu SMPN di Kab.Kayong Utara, Kalimantan Barat, yang diamankan aparat Polres setempat, Minggu (13/5-2018) sore, belum ditetapkan sebagai tersangka.”

.

 FITRIANI Septiani yang bermarga (fam) Alhinduan itu, diamankan atas dugaan analisis singkat sebagai hoax di akun Facebooknya soal Bom Surabaya.

Fitriani sudah diperiksa penyidik Senin (14/5-2018) malam. Kabid Humas Polda Kalimantan Barat – Kombes Nanang Purnomo menerangkan FSA belum berstatus tersangka, namun mengamankan sebuah Hp dengan nomor yang digunakan Bu Guru Fitriani sebagai barang bukti.

“Pelaku sudah dibawa ke Polres Kayong Utara guna proses lebih lanjut,” kata Kombes Nanang kepada wartawan.

Seperti diberitakan sebelumnya FSA ditangkap pada Minggu (13/5) sekitar jam 16.00 WIB oleh personel Satuan Reskrim Polres Kayong Utara di rumah kos. Dalam akun Facebook-nya, FSA menulis status analisisnya, yaitu tragedi bom Surabaya adalah rekayasa pemerintah.

“Sekali mendayung 2-3 pulau terlampaui. Sekali ngebom: 1. Nama Islam dibuat tercoreng ; 2. Dana trilyunan anti teror cair; 3. Isu 2019 ganti presiden tenggelam. Sadis lu bong… Rakyat sendiri lu hantam juga. Dosa besar lu..!!!” tulis FSA, sebagaimana dikutip detikcom dari akun Facebook Fitri Septiani Alhinduan, yang menjadi barang bukti polisi.

FSA juga menulis status tragedi Surabaya sebagai sebuah drama yang dibuat polisi agar anggaran Densus 88 Antiteror ditambah.

“Bukannya ‘terorisnya’ sudah dipindahin ke NK (Nusakambangan)? Wah ini pasti program mau minta tambahan dana anti teror lagi nih? Sialan banget sih sampai ngorbankan rakyat sendiri? Drama satu kagak laku, mau bikin draama kedua,” tulis FSA juga.

(Baca artikel terkait terdahulu > 14 Mei 2018 > Peristiwa : Menyoal Bom Surabaya, Syarifah Fitriani Ditangkap Polisi Kalbar)

FSA terancam Pasal 28 ayat 2 UU Informasi dan Transaksi Elektronik. “Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA),” jelas Nanang. *BNTime/detik



Komentar anda:

komentar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *