Perusahaan Larang Shalat Jumat, Keluarga Karyawan Muallaf Lapor ke MUI, Unsur Penistaan Agama Terpenuhi


Keluarga Mualaf PT Sariyunika saat melapor ke MUI (istimewa)
[ A+ ] /[ A- ]

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy - CopyMajelis Ulama Indonesia (MUI) siap menindaklanjuti laporan adanya dugaan penodaan agama yang berlangsung di PT Sariyunika Jaya yang terletak di Jalan Leuwigajah, Kota Cimahi, Jawa Barat. Di perusahaan yang bergerak dibidang tekstil tersebut melarang karyawan yang beragama Islam untuk salat Jumat.”

 SAAT ini perusahaan yang berdiri sejak 1967 di atas lahan seluas 25 Ha tersebut, memiliki sekitar 450 karyawan yang terdiri dari laki-laki dan perempuan.

 “MUI akan tindaklanjuti dan follow up serta menggelar rapat pimpinan. Nanti akan koordinasi dengan pelapor,” kata Wakil Ketua Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI, Ikhsan Abdullah di Gedung MUI, Jakarta, Selasa (3/4-2018).

Ikhsan mengakui, berdasarkan kesimpulan sementara, memang telah terjadi peristiwa yang bersifat berupa tindakan menghalangi warganegara dan karyawan untuk melaksanan ibadah di PT Sariyunika Jaya. Padahal negara menjamin hak – hak warga negara untuk menjalanilkan ibadah dan keyakinan tanpa ada paksaan, sehingga jika ada pelarangan dalam beragama maka masuk pelanggaran konstitusi.

“Ini terjadi pelanggaran yang sangat serius, maka kami follow up pada rapat pimpinan untuk dibahas. Karena disini ada komisi-komisi yang membahasnya,” tegas Ikhsan.

Sementara itu anggota Komisi Hukum dan Perundangan MUI, Kaspudin Nor mengatakan, setiap orang dilindungi salah satu UU untuk menyakini agama dan kepercayaan. Apalagi korban sudah dewasa. Oleh karena itu ada pelanggaran konstitusi di PT Sariyunika Jaya. Untuk menyelesaikan kasus pelarangan agama yang terjadi di PT Sariyunika maka MUI daerah Jabar akan memfasilitasi dan MUI Pusat akan menggelar rapat pleno.

Adanya tindakan pelarangan beribadah di PT. Sariyunika Jaya dilaporkan Oey Huei Beng ke MUI. Menurut Oey Huei Beng, pelarangan ibadah khususnya sholat Jumat dilarang oleh Oey Han Bing, Direktur PT. Sariyunika Jaya.

Selain itu Oey Han Bing juga melarang adanya pelaksanaan penyembelihan hewan kurban di area PT Sariyunika Jaya pada Hari Raya Idul Adha 1438 H tepatnya pada tanggal 1 September 2017.

Kala itu Oey Huei Beng beserta suaminya Albert Wijaya dan anaknya Arnold yang telah mualaf, melaksanakan kurban dengan menyembelih seekor sapi di PT Sariyunika Jaya, kemudian daging hasil hewan kurban tersebut dibagi-bagikan kepada seluruh karyawan PT Sariyunika Jaya. Namun dengan semena-mena, Oey Han Bing tidak terima atas adanya penyembelihan hewan qurban tersebut dan memarahi beberapa orang karyawan yang menjadi panitia kurban.

Tindakan penistaan agama yang dilakukan oleh Oey Han Bing makin terbukti dengan adanya pemecatan terhadap seluruh satpam (dari Pasopaty) yang berjumlah 9 (sembilan) orang. Oey Huei Beng pun berontak dan tidak terima, karena karyawan satpam dipecat oleh Oey Han Bing hanya karena Oey Huei Beng yang sesungguhnya adalah komisaris dan pemegang saham perusahaan mengizinkan melakukan penyembelihan hewan kurban di perusahaan.

Dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Oey Han Bing tidak berhenti sampai disitu. Untuk kedua kalinya, Oey Han Bing kembali melakukan tindakan penistaan agama Islam tepatnya pada Kamis, 11 Januari 2018. Ketika itu Oey Huei Beng dan suaminya (Albert Wijaya) bersama Abdul Hakim dan supir pribadinya (Okta Bolung) bermaksud untuk masuk ke dalam PT Sariyunika Jaya, namun tiba-tiba dilarang untuk memasuki perusahaan oleh satpam yang menjaga pintu gerbang.

“Mohon maaf ibu tidak boleh masuk, ini perintah pimpinan. Karena kemarin hari Jumat (5 Januari 2018) Pak Albert Wijaya dan Arnold salat jumat di perusahaan ini. Jadi, apabila ibu tetap masuk maka kami semua yang ada disini (Dedi, Tony, Cecep dan Erik akan diberhentikan oleh pimpinan perusahaan,” ujar Oey Huei Beng menirukan ucapan Satpam.

Hingga berita ini diturunkan, Oey Han Bing belum dapat dikonfirmasi terkait dugaan penistaan agama yang dilaporkan ke MUI.*borneonusantaratime/harianterbit

 

 

 



Komentar anda:

komentar



(Visited 1 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *