Effendy Asmara Zola: Surat Terbuka buat Ibu Indonesia


[ A+ ] /[ A- ]

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy - Copy“Puisi Sukmawati Soekarnoputri, Ibu Indonesia, yang dibacakan pada pagelaran Indonesian Fashion Week di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (29/3-2018) malam, yang viral memantik beragam komentar dari berbagai kalangan, tak luput menyulut sudut pandang penyair angkatan ’66 dari Kalimantan Barat.”

HAL itu terkait dibanding-bandingkannya hazanah budaya Indonesia dengan Syariat Islam, cadar, dan azan. Puisi Kontroversi tersebut tak hanya memantik komentar miring terhadap salah satu puteri Bung Karno sang Proklamator, bahkan juga memunculkan beberapa puisi balasan dari warga net yang cukup pedas, khususnya dari kalangan kawula muda.

Dari kota Pontianak, Kalimantan Barat, ada tanggapan dari penulis eksponen angkatan ’66, Effendy Asmara Zola, “di mana nilai sastranya kalau disempal kebencian terhadap kelompok tertentu,” ujar dia ketika dimintai tanggapannya, Rabu (4 April 2018).

“Membanding-bandingkan budaya bangsa dengan Syariat Islam, pelecehan, penistaan itu. Itu gaya mainan orang-orang liberal, sekuler, atheis, komunis. SARA itu,” lanjut  Ami Effendy, demikian biasa dia disapa.

Ketika diberitahukan bahwa Sukmawati sudah konfrensi pers menyampaikan permohonan maaf, menurut penyair dan wartawan senior ini, “ya, katanya tak ada maksud untuk menista agama Islam karena dirinya juga muslimah, tapi mengapa mesti nyinyir ? Apalagi dia sebut puisi itu salah satu dari kumpulan puisi yang dia bukukan di 2006, mengapa dia tak pernah membaca-baca ulang puisinya sendiri untuk koreksi diri, barangkali ada bait atau baris yang bisa menyinggung perasaan umat jika dibacakan di forum resmi, di depan public dan menyebar ke seantero jagat. Ingat, ini zaman teknologi mutahir. Apalagi sekarang ini situasinya tahun politik, apa saja bisa digelitik, diotak-atik,” tanggapannya.

“Tapi ya sudahlah. Sebagai umat pemeluk agama yang Rahmatan lil Alamin, maafkan sajalah sebagai pelajaran. Namun secara hukum, kita tak ingin terjadi tebang pilih dalam penegakan hukum, apalagi itu delik murni. Kita tunggu saja action penegakan hukumnya,” imbuhnya.

Sedikit tentang penulis yang popular dengan nama Effendy Asmara Zola, ia wartawan angkatan ’66 di Kalbar,  bekerja untuk suatu grup majalah mingguan berita dan hiburan yang terbit di Jakarta tahun ’70-an.

Ami Effendy satu-satunya penulis Kalbar yang bisa menembus puisi dunia pada 1973, ketika keluar sebagai runner-up lomba karya tulis puisi Mengenang AOH K.Hadimadja, almarhum penyiar Suara Indonesia Radio BBC London, judul puisi kritik sosialnya “Aku Ingin Menulis Puisi Tentang Korupsi”, menyisihkan ratusan peserta lainnya dari seluruh Indonesia.

“Pemenang atau juara satunya waktu itu, saya ingat namanya Ridwan Pinat dari Bandung, Jawa Barat,” kenangnya.

Berikut puisinya untuk menanggapi puisi Sukmawati Soekarnoputri, Ibu Indonesia :

Surat Terbuka buat Ibu Indonesia

BuSuk (Bu Sukmawati),

sumpah, aku tak mengerti soal sari konde

yang kutahu puisimu telah menebarkan aroma busuk

lebih busuk dari kutu busuk yang menyengat  cuma satu hidung yang menyiumnya saja

sedangkan puisimu menyengat dan menyesakan isi dada berjuta umat

membasahkan kelopak mata dan mengalir di kedua belah pipiku yang renta

dan pipi-pipi kenyal para nona berhijab atau yang bercadar

indahnya hijab dan cadar karena konsisten pada tempatnya

tak seburuk nasib kerudungmu yang melompat-lompat

kadang di kepala kadang melingkar saja di tengkuk yang mulai bungkuk

wahai, kita semua bakal dimakan usia

sadarilah

 

BuSuk,

jika kau tak tahu Syariat Islam

bergurulah, atau diam

tak pernah Syariat Islam mengharamkan konde atau pun kidung mengidung

setahuku tak ada kidung seindah azan

sekalipun kidung dibarengi halusnya petikan gitar ebiet g ade

tidak, kidung tak akan dapat mengeliminasi azan

yang telah membuat tersungkur sujud jutaan muallaf dalam sahadat

 

BuSuk,

jika kau tak tahu Syariat Islam

bergurulah, atau diam

kenali dulu dirimu dalam-dalam

supaya tahu digjayanya Syariat Islam

maka puisimu tak akan semasam buah mempelam

 

BuSuk,

azan berkumandang tak mengenal jeda

setiap detik setiap saat

terus berkumandang bersahut-sahutan

sambung menyambung tiada henti hingga akhir zaman

sedangkan kidung kapan suka-suka saja

bukan ibadah bukan syariah

mengapa kidung kau puja puji

kidung bisa dijadikan sarana puja-puja

puja jin, puja setan, puja iblis

sedangkan azan pengusir jin, pengusir setan, pengusir iblis

 

Wahai Ibu Indonesia,

puisimu nyinyir

puisi pandir

pandanglah dirimu sendiri

sebelum pandanganmu memudar

supaya kau dapat memandang indahnya keabadian nanti

tak seperti gemah ripah loh jinawe yang diriwayatkan terus dalam penantian

(pontianak, selasa 3 april 2018)

Komentar anda:

(Visited 5 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.