Ustadz Fadlan Garamatan Dikriminalisasi


[ A+ ] /[ A- ]

logo-bnt-“Ia dilaporkan dengan dugaan menghina dan menghasut serta merendahkan martabat orang Papua. Padahal, apa yang disampaikan merupakan fakta yang terjadi di lapangan.”

ULAMA asal Irian Barat Ustadz Fadlan Garamatan dilaporkan ke polisi. Ia diduga menghina orang Papua, melalui ceramah keagamaannya. Ustadz Fadlan dilaporkan warga bernama John Baransano ke Markas Kepolisian Daerah Papua, Senin, (26/3).

Dalam video ceramahnya, Ustadz Fadlan diduga telah memenuhi unsur melanggar Pasal 27 ayat 3 Jo. UU RI nomor 19 tahun 2016 tentang informasi dan transaksi elektronik. Hal itu disampaikan pengacara pelapor, Yulianto. Menurutnya, isi ceramah Ustadz Fadlan yang viral di media sosial itu dinilai telah menghina dan merendahkan harkat dan martabat rakyat Papua.

“Isi ceramah Ustadz Fadlan dalam video itu bohong, menghina dan menghasut serta merendahkan martabat orang. Sehingga, kami laporkan yang bersangkutan karena cemarahnya menimbulkan keresahan, dan kami minta Polisi segera memprosesnya sesuai hukum yang berlaku,” ujar Yulianto.

Berikut kutipan ceramah Ustaz Fadlan yang dilaporkan ke kepolisian:

Bapak/Ibu yang dirahmati oleh Allah Swt.

Saya mengimani surat Al Fatihah ini menjadi konsep dasar saya dalam membangun dakwah selama 27 tahun di Irian.

Walaupun awal tahun 1978 saya hijrah ke Makassar untuk belajar, di saat itu banyak orang mencurigai bahwa saya bukan muslim. Tapi, berusaha dengan tenang menyampaikan kepada mereka bahwa saya adalah seorang muslim dari Irian.

Setelah selesai, saya pulang ke Irian melihat situasi perubahan, bagaimana bisa merubah keadaan masyarakat yang ada di sana, saya bilang tidak bisa. Jalan satu-satunya untuk kita merubah keadaan itu adalah dakwah harus menyentuh masyarakat di pedalaman.

Karena orang-orang di pedalaman Irian itu hampir semuanya dikasih bodoh (pembodohan) oleh misionaris-misionaris yang datang kesana. Sehingga saya mencoba melakukan untuk dakwah dengan peta untuk wilayah pegunungan, wilayah Asmat, wilayah sungai, dan saya menggunakan teori sabun mandi.

Kenapa saya menggunakan sabun mandi? Karena saudara-saudara kita di pegunungan itu, di sungai dan di lembah-lembah diajarkan misionaris tidak boleh mandi menggunakan air bersih. Mereka boleh mandi, tapi menggunakan lemak babi.

Daging babinya dia bakar, dia tampung, sesudah itu mereka makan daging babi dan menggosok seluruh tubuhnya dengan minyak atau lemak babi. Yang disampaikan misionaris kepada mereka itu untuk mengusir nyamuk dan membuat tubuh hangat.

Ustadz Fadlan Garamatan -WP-

Padahal itu adalah membunuh karakter pemikiran mereka menjadi manusia. Sudah mandi pakai lemak babi, mereka juga Dilarang tidak boleh berpakaian. Koteka itu menjadi pakaian mereka yang harus dijaga, dirawat dalam rangka membangun kebudayaan masyarakat di negeri itu.

Padahal, karena di tengah hutan itu tidak ada pakaian mereka menggunakan daun sayur labu dan rumput menjadi pakaian mereka. Sudah telanjang, pakai lemak babi, orang asing itu membawa minuman keras, masuk ke pedalaman Irian, kasih minum saudara-saudara kita. Hingga mereka mabuk dan tidur bersama babi di dalam kandang.

Ada ibu-ibu kita yang beranak di sana seperti binatang melata yang melahirkan di bawah pohon, Begitu keluar ari-arinya dan untuk memutus ari-ari itu menggunakan batang yang tajam. Sesudah itu, ibu-ibu dilarang memberikan susu kepada anak-anaknya di payudara sebelah kanan, tapi harus sebelah kiri. Sementara, air susu di sebelah kanan dipakai untuk menetek anak babi.

Saya bilang, saya mulai pelajari Kenapa hal ini terjadi. Ternyata, sebuah kejahatan yang dibuat misionaris untuk Indonesia. Orang Irian harus tetap bodoh, miskin, tertinggal, dan terbelakang. Lalu dia buat video, buat foto dan buat proposal. Mereka cerita di Amerika, Eropa dan Australia.

Di sana mereka memfitnah Indonesia, bahwa pemerintah Indonesia tidak mampu membangun masyarakat Irian. Di sisi lain setelah mendapatkan uang dari sana, dia masuk ke pedalaman dan membuat LSM agar LSM mengawasi TNI, mengawasi polisi, memfitnah mereka bahwa mereka membunuh orang, mereka membuat kekacauan.

Di sisi lain, mereka mulai mengajarkan pembodohan untuk membuat masyarakat Irian benci kepada Republik Indonesia. Saya bilang tidak ada cara lain untuk merubah keadaan ini, dan tidak ada agama lain yang merubah cara ini kecuali konsep dakwah dari Rasulullah Saw.

Sebagaimana Allah berfirman:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ.

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S An-Nahl: 125).

Saya mentadabburi ayat ini, serulah manusia, ajaklah manusia kepada agamamu, agama Tuhanmu dengan arif bijaksana dan hikmah.

Tantangan Kristenisasi

Jurnal Misi Kristen The Modlem World, edisi Oktober 1946, memuat ungkapan J. Christy Wilson, seorang Tokoh Misionaris Kristen, bahwa: “Evangelisme for Mohammaedans is probably the most difficult of all missionary tasks.”

Tokoh misionaris Kristen Samuel Zwemmer juga mengakui, bahwa kekuasaan Islam adalah terletak dalam karakter Islam sebagai agama tauhid. The chief factor in this problem, however is the character of Islam itself as a theistic faith. The strength of Islam is in its tremendous and fanatical grasp on the one great truth monotheism.

Pakar Kristolog Abu Deedat mengingatkan misi Global kristenisasi ialah menargetkan 50 persen penduduk dunia menjadi pengikut Kristus, seperti yang tercantum dalam buku Sejarah Gereja.

“Mereka melihat Indonesia sebagai lahan yang subur, karena mayoritas penduduknya beragama Islam dan merupakan negara Islam terbesar kedua di dunia. Misi kristenisasi di Indonesia menargetkan 160 juta rakyat Indonesia atau sekitar 80 persen dari total penduduk Indonesia berjumlah lebih dari 200 juta orang, harus menjadi Penganut Agama Kristen,” papar Abu Deedat dalam majalah Modus.

Senada hal itu, dosen Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta Pendeta Dr. Martin Sinaga dalam artikel di majalah Pantau menyatakan, bahwa kristenisasi bukan ilusi dan itu sungguh-sungguh terjadi.

“Pada awalnya misi kristenisasi di bebani oleh pemerintah kolonial yang didukung Belanda, tapi kurang berhasil. Selanjutnya, misi ini dibebani oleh negara-negara terutama Amerika Serikat, yang sulit dipungkiri punya media dan uang untuk melancarkan Missionary itu,” ujar Pendeta Martin Sinaga dalam wawancara dengan majalah Pantau.

Karena itu, masalah aqidah Islamiyah, masalah iman dan masalah pemurtadan perlu senantiasa menjadi perhatian serius dari seluruh kaum muslim, khususnya para ulama dan cendekiawannya. Masalah ini lebih penting daripada masalah syariat Islam atau masalah politik, ekonomi sosial dan sebagainya. Sebab, aqidah adalah fondasi, landasan, dan pijakan dari seluruh bangunan Islam.

“Islam ditegakkan di atas lima hal: persaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, penegakan shalat, penunaian zakat, pelaksanaan haji ke Baitullah, dan shaum Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim). *borneonusantaratime/wartapilihan (Adi Prawira)

(Visited 3 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.