Tega nian, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir Dijadikan Komoditas Politik


Ustadz Abu Bakar Ba'asyir usai pemeriksaan di RSCM. Rabu (1/3). (Foto:dok.pribadi)
[ A+ ] /[ A- ]

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy - Copy“Ini tahun-tahun politik. Janganlah, Ustadz (Abu Bakar Ba’asyir) dibikin menjadi komoditas politik. Upaya pemeriksaan Ustaz untuk tetap sehat sudah kami lakukan dari tahun lalu. Ini seperti 2014, mendekati tahun politik, naikkin beritanya, model lama itu,” Guntur Fattahillah.

USTADZ Abu Bakar Ba’asyir kembali menjalankan pemeriksaan secara berkala di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Kamis (1/3-2018). Kuasa Hukum Ustaz Abu, Guntur Fattahillah menuturkan, pemeriksaan klient-nya seharusnya dilakukan sejak bulan Oktober, namun tertunda hingga bulan Januari, dan baru bisa dilaksanakan awal Maret.

“Dalam rangkaian pemeriksaan (kesehatan) antara lain tensi, cek darah, jantung, dan doppler,” kata Guntur di RSCM, Jakarta, Kamis (1/3).

Secara umum, lanjutnya, dokter RSCM mengatakan tidak ada hal yang memburuk pada diri Ustadz  Abu. Namun, Ustadz Abu harus kembali menjalani pemeriksaan (cek darah) pada Kamis (8/3) . Hal itu disebabkan adanya pembengkakan di kaki sebelah kanan.

“Ada pembengkakan seperti kelenjar kista. Lebih lanjut nanti dari dokter MER-C yang akan menjelaskan. Saya hanya menjabarkan gambaran secara umum,” terang Guntur

Emoh Grasi

Kendati demikian, Guntur mengatakan Ustadz Abu sudah selayaknya dirawat oleh pihak keluarga mengingat kondisinya yang sudah udzur. Terkait wacana grasi, Ustadz Abu mengatakan dirinya tidak bersalah, sehingga tidak pantas untuk meminta grasi ke Presiden Jokowi.

“Terakhir pada zaman Pak SBY, kami meminta agar Ustadz Abu menjadi tahanan rumah, sampai sekarang belum ada tanggapan. Karena beliau hanya menjalankan syariat Islam dan menerangkan agama Islam itu sendiri,” tuturnya.

“Dalam pemahamannya, Ustadz tidak akan menyampaikan mohon maaf kepada manusia, karena permohonan maaf yang beliau (Ustadz Abu Bakar Ba’asyir) sampaikan hanya kepada Sang Pencipta, Allah Swt,” sambung Guntur.

Guntur berterima kasih pada tokoh politik, tokoh agama, tokoh masyarakat maupun dari aparatur Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pertahanan (Menhan) jika Ustadz Abu menjadi tahanan rumah. Menurutnya, berdasarkan pertimbangan WHO, seorang yang sudah tua (80 tahun) sepatutnya dirawat oleh keluarga.

“Ustadz sendiri tidak mau (grasi). Kita bingung siapa yang mewacanakan grasi. Tidak pernah ada permintaan grasi dari Ustadz Abu, Kuasa Hukum, maupun pihak keluarga sendiri. Jangan (wacana grasi) dijadikan komoditas politik di tahun-tahun politik. Seperti peristiwa di tahun 2014,” imbuh Guntur.

Ia mendapatkan informasi yang mengatakan bahwa Menhan akan memindahkan Ustadz Abu ke Solo. Namun, Ustadz Abu menolak tawaran tersebut.

“Kalau di LP (lembaga pemasyarakatan), mau di Gunung Sindur, Nusa Kambangan sama saja. Semua sudah dirasakan oleh beliau,” ungkapnya.

Ia meminta Dirjen Lapas, BNPT dan Densus 88 untuk mengindahkan arahan dokter terkait kesehatan Ustadz Abu. Sehingga pembengkakan di kaki sebelah kanannya tidak berlarut-larut dirasakan Ustadz Abu.

“Idealnya, instansi terkait ikut apa kata dokter,” tegas Guntur.

Untuk diketahui, pemeriksaan pertama Ustaz Abu dilaksanakan di RS Harapan Kita, kemudian di RSCM, dan pemeriksaan ketiga di RSCM selama 10 hari. *borneonusantaratime/wartapilihan

(Visited 4 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.