Kapitra Ampera: Apakah Polisi Benci dengan Islam?


Kapitra Ampera (wartapilihan)Kapitra Ampera (wartapilihan)
[ A+ ] /[ A- ]

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy - Copy“Pasca penyerangan ulama di beberapa wilayah secara hampir serentak dan polisi mengatakan tidak jelas orang di baliknya, kini umat Islam tersudutkan lagi dengan penangkapan Family Muslim Cyber Army (Family MCA) yang membawa nama Islam. Ada apa sebenarnya antara polisi dan umat Islam?”

HOAX atau berita bohong pada dasarnya merupakan patologi sosial yang dapat merusak nalar bangsa. Hal itu disampaikan oleh Kapitra Ampera, Penasihat Persaudaraan 212.

“Cara berpikir seseorang ditentukan dari informasi yang didapatkan. Apabila hoax yang dia dapatkan, maka cara berpikirnya pun tidak benar,” kata Kapitra, dalam acara Indonesia’s Lawyer Club, di TV One, Selasa malam, (6/3/2018).

Namun, ia sungguh menyayangkan, mengapa dalam kasus penangkapan pelaku hoax Family MCA seolah sangat menyudutkan umat Islam itu sendiri. Polisi seolah bertindak pada kelompok tertentu saja, bukan pada penegakan hukum itu sendiri.

“Pelaku (yang ditangkap) umat Islam semua, apakah polisi benci dengan umat Islam? Harusnya polisi berpihak pada hukum, bukan pada kelompok masyarakat tertentu,” lanjut Kapitra, yang acara tersebut juga dihadiri pihak kepolisian.

Ia pun meluruskan, MCA yang ada dalam barisan 212 adalah orang-orang yang sejatinya untuk melindungi saksi dalam kasus penistaan agama Ahok dari bully netizen di media sosial, seperti misalnya Buni Yani.

“MCA di dalam 212 adalah mujahid pembela aksi Islam. Tujuan dibentuknya adalah untuk melindungi saksi dari bully, meluruskan berita-berita hoax yang menimpa ulama kami, dan kami punya kaidah untuk tidak boleh mengeksploitasikan aib orang (ghibah),” tutur dia.

Selain tidak boleh melakukan ghibah karena sama dengan memakan bangkai manusia, di MCA ada sebuah kaidah dimana tidak boleh melakukan fitnah dan juga iftirah.

“MCA yang sesungguhnya menghindari ini, meluruskan hoax yang hampir meluluhlantakkan akal sehat bangsa ini,” terang Kapitra.

Ia menduga, aksi penangkapan ini justru berkaitan dengan Pilkada dan Pilpres di tahun ini dan tahun mendatang. “Ada aktor politik yang memainkan hoax ini, maka saya yakin polisi tidak mampu,”

Pasalnya, setiap hari ada 187 hate speech yang terlontar di jagat Maya. Belum lagi 800 akun pornografi setiap hari selalu muncul dan muncul lagi.

Kapitra menambahkan, Family MCA yang mengaku membawa-bawa nama Islam ini adalah MCA bodong. Pasalnya, di MCA 212 yang asli tidak memiliki struktur dan sekedar melakukan pelurusan berita ketika ulama difitnah atau diserang.

“Dengan adanya MCA bodong ini, seolah-olah umat Islam sangat brutal. Umat Islam disalahkan terus. Family MCA ini justru menyerang umat Islam,” tukasnya.

“Saya pikir ini harus tuntas, pasti ada sesuatu di balik ini yang berkaitan dengan politik dan ekonomi. Kalo kaya gini, kita akan melahirkan pemimpin yang hoax dan tukang tipu,” pungkas Kapitra. *borneonusantaratime/wartapilihan



Komentar anda:

komentar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *