Setelah Kartu Kuning, Siapa yang Pegang Kartu AS ?


[ A+ ] /[ A- ]

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy - Copy“Andai kata ada mesin waktu, mau rasanya saya masuk ke lorong waktu –   kembali ke masa asik-asiknya jadi mahasiswa, mengeritisi apa saja yang layak dikeritisi ketimbang jadi bebek atau burung beo. Padahal demi kemajuan bangsa dan Negara.”

TAPI lorong waktu  hanyalah sebuah igauan yang layak ditertawakan. Namun apa yang dilakukan Ketua BEM UI, dengan sempritan dan kartu kuning 2218 bukanlah igauan, tapi sebuah mimpi yang mesti diujudkan di alam nyata. Mimpi untuk membangun bangsa dari sebuah keterpurukan. Mereka generasi penerus bangsa yang sebentar lagi bakalan menggantikan paktua-paktua yang menjadi sepuh tak lagi laku memainkan jari telunjuknya.

Alasan Zaadit Taqwa, Ketua BEM UI “unjuk rasa” 2218 dengan kartu kuning ke arah Presiden Jokowi saat menghadiri Dies ke 68 UI, sebagai bentuk peringatan atas berbagai masalah yang terjadi di dalam negeri yang dinilai banyak melorotnya ketimbang kemajuan.

Lalu, bak tak mau kalah seru dengan aksi anak muda – kendati ketinggalan kereta, Wakil Ketua DPR – Fahri Hamzah malah angkat kartu merah 3218 konon sebagai bentuk kritik kepada pemerintah. Menurut Presiden KAKAMMI (Keluarga Alumni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) ini, pemimpin yang bijak harus bisa membawa Indonesia ke arah yang lebih baik, bukan justeru melahirkan sengketa dan berujung kegaduhan yang merugikan rakyat. “Kita jangan salah arah, kalau salah arah pemainnya keluarin aja,” ujarnya memaknai kartu merah sindirannya.

Urutannya sih, ya memang begitulah. Di dalam laga sepak bola, memang ada hanya dua kartu, kuning dan merah. Kalau pemainnya tak bisa diingatkan dengan kartu kuning, ya kartu merah karena terus saja melakukan pelanggaran, titik! Tak ada kartu hijau, biru atau kelabu seperti balonku yang ada 5 itu.

Di lain pihak, Sekjen PDIP – Hasto Kristiyanto mengakui tidak akan melakukan “serangan balik” kepada BEM UI, tidak mempermasalahkan aksi pengacungan kartu kuning tersebut, konon lebih mengedepankan dialog. “Presiden saja tersenyum-senyum dan malah merangkul bersama,” ujarnya di Jakarta, Senin (5/2-208). Sebaliknya yang menarik, Hasto menyatakan akan mengeluarkan “kartu” juga, tidak kuning tidak merah, tapi hijau.

“Setelah dialog nanti, kartu hijau yang akan disampaikan,” ujarnya, tanpa penjelasan “kartu hijau” apa yang dimaksud. Jangan malah kartu hijau berubah menjadi ksatria baja hitam, hijau-hijau merah.

Kalimat bersayap dan berselubung dari Hasto Kristiyanto itu mengingatkan saya pada ujaran alahyarham Gusdur dulu, bahwa anggota DPR itu sama dengan anak TK.

La iya, apa artinya dialog kalau kartu kuning dihadang kartu hijau kekuning-kuningan atau kemerah-merahan. Pertanyaannya, siapa yang pegang kartu AS atas persoalan bangsa dan Negara di era tukang pasang baut pun mesti Wong Cino ini ? *borneonusantaratime

Pontianak, 060218

 

Komentar anda:

(Visited 3 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.