“ORANG GILA”


[ A+ ] /[ A- ]

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy - Copy“Saya renung-renung, saya pikir-pikir, terakhir ini perlu waspada, perlu juga punya rasa cemas dan was-was – terutama para ulama. Betapa tidak, orang gila tiba-tiba berkeliaran dan bikin geger orang waras seisi nusantara.”

DUA ulama, Ustadz Umar Basri dan Ustadz Prawoto diserang oleh dua “orang gila” secara terpisah dalam waktu berbeda dan TKP yang berbeda, akhir Januari dan  awal Februari di tahun Politik 2018. Korban pertama nyaris meregang nyawa, tapi korban kedua syahid.

Hebatnya kedua “orang gila” tersebut yang entah berdiri sendiri atau terintegrasi, bisa membedakan yang mana ulama mana bukan ulama. Keduanya terjadi di tempat berbeda di daerah yang sama, Jawa Barat.

Saya terus berpikir sambil sesekali menyeruput secangkir kopi. Apa para ulama atau ustadz perlu punya  pengawal pribadi yang “gila” – siap pasang badan untuk menghadapi  “orang gila” yang bukan mustahil tiba-tiba nongol melakukan penyerangan?

Lebih-lebih ustadz  kondang saat ini, Abdul Samad yang belum lama ini diadang segerombolan orang waras di Bali, Ustadz Tengku Zulkarnain di Bandara “Susilo”, Sintang (Kalbar), Ustadz Sobri Lubis dan Ustadz Bachtiar Nasir di Bandara “Supadio” Kubu Raya, Pontianak. Tudingannya sama, radikal dan anti NKRI.

Pengurus Pusat Front Pembela Islam (FPI), Habib Novel Bamukmin menilai ada yang sangat tidak wajar atas penyerangan ulama dan ustadz di Provinsi Jawa Barat itu. Sementara Ketua Perhimpunan Masyarakat Madani (Prima) Sya`roni mengatakan, penyerangan terhadap ulama yang beruntun di Jawa Barat harus diwaspadai sebagai ancaman serius yang diduga kuat sebagai permainan tingkat tinggi untuk tujuan membuat kegaduhan menjelang Pilkada (Pilgub Jabar). Skemanya, kata Sya’roni, mirip peristiwa di Banyuwangi tahun 1998, yakni pasukan ninja membantai para kyai.

Lalu, kalau begitu, adakah pula yang “bermain” di balik peristiwa paling anyar hari ini, Minggu (11 Febr 2018) pagi, giliran sebuah gereja di Sleman – Yogyakarta yang jadi sasaran. Seorang pria berpedang menyisir isi gereja, menyasar seorang pastor dan beberapa jemaat yang tengah melakukan kebaktian luka-luka disabet senjata tajamnya

Apakah pria muda itu “orang gila” juga apa “gila-gilaan” entahlah, karena dia keburu dilumpuhkan polisi dengan timah panas.

Agaknya di tahun politik “zaman now” sekarang, para tokoh agama apa pun perlu meningkatkan kewaspadaan dari perbuatan yang tidak bisa ditolerir tersebut. Ingat kata “Bang Napi” dulu, waspadalah, waspadalah !

Kita pun tentu berharap,  polisi dapat segera membongkar kasus “orang-orang gila” tadi, agar tidak ada lagi “orang-orang gila”, yang berkeliaran di rumah ibadah-rumah ibadah atau kediaman pribadi para ulama dan tokoh agama lainnya.” . *borneonusantaratime

*Pontianak, 11 Februari 2018

Komentar anda:

(Visited 5 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.