Novel Pulang, Bagaimana Selanjutnya? Presiden Jokowi Didesak Segera Bentuk TGPF


Novel Baswedan di gedung KPK (foto; kumparan)
[ A+ ] /[ A- ]

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy - Copy“Novel Baswedan tiba kembali di tanah air, setelah sekitar 10 bulan dilakukan serangkaian pengobatan oleh RS di Singapura. Penyidik senior KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) ini, dirawat intensif selama itu akibat penyerangan  dengan air keras oleh pelaku misterius yang mengakibatkan cedera berat pada mata kirinya.”

NOVEL bersama isteri dan rombongan yang menjemputnya terbang dari bandara Changi, Singapura, menggunakan pesawat Garuda dan mendarat di bandara Soekarno-Hatta, Kamis (22/2-2018) siang. Tak ada pengamanan khusus oleh kepolisian atas kepulangan penyidik senior lembaga anti rasuah itu.

Kehadiran penyidik senior KPK itu langsung disambut hangat oleh masyarakat dan pegawai di Gedung Merah Putih KPK, Kuningan Persada, Jakarta Selatan.

Sepulangnya dari masa pengobatan mata di Singapura, Novel memang memilih untuk terlebih dahulu mengunjungi kantornya itu. Wakil Ketua KPK Laode M Syarief, juru bicara KPK Febri Diansyah, eks Ketua KPK Abraham Samad, dan puluhan aktivis antikorupsi, ikut meramaikan.

Pantauan kumparan (kumparan.com), beberapa dari aktivis itu (yang tergabung dalam Indonesia Corruption Watch dan KontraS), membawa poster dukungan untuk Novel dan KPK.

Menurut salah seorang aktivis, Yansen Dinata, kehadiran mereka kali ini, bukan sekadar untuk menyambut mantan Kasatreskrim Polres Kota Bengkulu itu. Melainkan, mendesak Presiden Joko Widodo agar segera menuntaskan kasus penyiraman air keras yang telah berlalu sepuluh bulan lamanya.

“Saya penggagas petisi untuk menuntut pembentukan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF, tim khusus untuk menyelidiki sebuah kasus) untuk Novel Baswedan. Harapannya Presiden Jokowi segera membentuk TGPF,” ujar Yansen kepada kumparan.

“Jadi kalau seandainya presiden berkomitmen terhadap pemenuhan hak asasi manusia, ataupun pemberantasan korupsi, tentunya juga harus melindungi orang-orang yang bekerja untuk memberantas korupsi,” sambungnya.

Kedatangan Novel, lanjut Yansen, merupakan langkah awal perjuangan masyarakat untuk memberantas korupsi.

“Seperti bang Febri bilang, ini adalah awal dari semuanya. Ini belum tuntas, tujuan kita untuk mencari kebenaran belum tuntas, makanya kita sangat semangat sekali untuk menyambut Novel Baswedan kesini,” tuturnya.

Sebelumnya, Jokowi sempat membuat pernyataan, akan melakukan tindakan lain jika Polri ‘angkat tangan’ dalam mengusut kasus Novel. Bahkan Jokowi berjanji akan ‘mengejar’ Kapolri Jenderal Tito Karnavian untuk menangkap orang di balik insiden tersebut.

Polda Metro Jaya mengaku tidak akan mundur menangani kasus ini. Bahkan, Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Argo Yuwono menyebut, pihaknya sudah meminta bantuan penyidik KPK untuk mencari titik terang kasus ini.

Kondisi mata kiri Novel Baswedan setelah dioperasi (foto: kumparan/humas kpk)

Kondisi mata kiri Novel Baswedan setelah dioperasi (foto: kumparan/humas kpk)

Sejauh ini, Polisi sudah beberapa kali menangkap terduga pelaku. Kendati begitu, mereka selalu kembali dilepaskan, lantaran tak ada kaitan sama sekali dengan kasus penyiraman air keras yang terjadi selepas Novel salat subuh di rumahnya tersebut, (11 April 2017). Terlebih, Polisi juga sudah memeriksa puluhan CCTV dan sekitar 100 toko kimia. Namun, hingga saat ini, dalang di balik penyerangan itu, belum terungkap.

Novel mengatakan, mata kirinya masih belum bisa melihat sama sekali dan masih memerlukan perawatan lanjutan. Ia pun sempat menegaskan, tidak takut pada ancaman! Peristiwa yang ia alami bukan untuk membuat takut atau melemahkan produktifitas, tapi menjadi semangat bagi semua untuk pemberantasan korupsi.

Novel tak lupa mengucapkan terimakasih kepada Presiden Jokowidodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang telah memberikan dukungan moril serta biaya selama perawatan dirinya di RS. *borneonusantaratime/kumparan

(Visited 4 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.