“Kartu Merah di Panggung Lapangan Hijau buat Anies”


[ A+ ] /[ A- ]

Kolom, Effendy Asmara Zola

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy - Copy“Masih belum tuntas heboh “orang gila” membantai ulama dan atau rumah ibadah, masih segar pula dalam ingatan – peristiwa  buku kuning yang diacungkan Ketua BEM UI kepada Presiden Jokowi, lalu kontroversial UU MD3 yang bakal jadi urusan MK (Mahkamah Konstitusi, eh viral pula kisah baru. Anies Baswedan dapat “kartu merah” di panggung lapangan hijau, gak boleh mendampingi Jokowi yang menyerahkan piala pemenang sepak bola kepada Persija.”

BEREDARNYA video di media social, saat Gubernur DKI Jakarta – Anies Baswedan dicegah oleh Paspamres untuk mendampingi Presiden Jokowi di podium penyerahan piala Presiden, Sabtu 17 Februari 2018, membuat kita terkesima.

Sontak pemandangan tak lazim tersebut menjadi perbincangan publik, dan tak kurang pula jadi menarik perhatian pengamat. Betapa tidak, Anies yang tuan rumah DKI malah diusik wewenangnya untuk mendamping presidennya.

Aneh, bagaimana jika acara tersebut diselenggarakan di provinsi lain, apakah gubernurnya dan walikotanya juga dicegah mendampingi presidennya, karena tidak selevel dengan jabatan menteri, menteri terkait Menpora misalnya?

Alasan untuk pengamanan pun terkesan mengada-ada, jika hanya karena seorang Anies yang berhasil menumbangkan Ahok dalam Pilkada DKI tahun lalu.

Meskipun dalam berita dikatakan, bahwa selama pertandingan, Presiden Jokowi dan Gubernur Anies sangat menikmati jalannya pertandingan final. Keduanya menonton dengan rileks, sangat informal, serta akrab. Presiden menyampaikan selamat dan menyalami Anies saat Persija mencetak gol.

Penonton juga menikmati baik yang langsung maupun melalui siaran layar kaca, namun publik tak dapat menikmati pemandangan janggal justeru setelah usainya pertandingan itu. Video berdurasi pendek yang beredar saat pengadangan sang gubernur oleh Paspamres, membuat netizen berdecak “takjub”.

Berbagai tanggapan dan anggapan pun bermunculan, baik dari sudut pandang etis maupun politis. Ada anggapan seperti ada sentiment politis disempalkan di balik kegiatan non protokoler tersebut, karena Anies adalah tokoh yang berhasil mendepak Ahok dari kursi B1 DKI Jakarta.

<Dikutip dari berita Voa-Islam, menurut Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin, tindakan tersebut merupakan prosedur pengamanan karena Paspampres berpegang pada daftar nama pendamping Presiden yang disiapkan panitia. Paspampres hanya mempersilakan nama-nama yang disebutkan oleh pembawa acara untuk turut mendampingi Presiden Joko Widodo.>

“Tidak ada arahan apapun dari Presiden untuk mencegah Anies. Mengingat acara ini bukan acara kenegaraan, panitia tidak mengikuti ketentuan protokoler kenegaraan mengenai tata cara pendampingan Presiden oleh Kepala Daerah,” tegas Bey Machmudin “melempar bola” ke Panitia.

“Namanya (Anies Baswedan) last minute dicoret dan ditahan Paspampres,” kata Wasekjen Gerindra, Andre Rosiade kepada wartawan, Minggu (18/2-2018).

Andre yang saat pertandingan ikut mendampingi Anies, menyayangkan sikap panitia, dalam hal ini Ketua Steering Committee (SC) Piala Presiden 2018 Maruarar Sirait. Semestinya, kata dia, Gubernur Anies mendampingi  Presiden Joko Widodo menyerahkan Piala Presiden 2018.

Pada puncak Piala Presiden 2018, lanjut Andre, Gubernur Anies sebenarnya sudah diinformasikan panitia untuk turun mendampingi Presiden Jokowi dalam penyerahan piala. Sayangnya, di detik-detik akhir namanya dicoret. Hal itu diketahui dari laporan atau informasi ajudan Gubernur.

Karena mendapat “kartu merah” demikian itu, dengan lapang dada akhirnya Anies memutuskan turun ke lapangan hijau bersama rombongan yang mengikutinya setelah Jokowi selesai, dan berbaur dengan pemain Persija guna mengucapkan selamat atas kemenangan Persija vs Bali United FC  3-0 di final Piala Presiden 2018, Sabtu (17 Februari 2018) malam

Andre pun mengenang perhelatan Piala Presiden 2015 (saat Persib menjadi juara), Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan Walikota Bandung Ridwan Kamil diundang naik ke panggung dalam penyerahan piala. Bahkan, Gubernur DKI Jakarta saat itu Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) ikut turun ke panggung  penyerahan piala.

Jangan heran jika ada anggapan Maruarar Sirait yang politisi PDIP itu telah menggelindingkan sentiment politik di panggung lapangan hijau dengan memberikan “kartu merah” ke Anies Baswedan.

Atas kejadian tindakan tak cerdas sang Ketua SC yang ditanggapi santai oleh Anies Baswedan, sebaliknya telah mengundang simpati banyak pihak dalam berbagai sudut pandang terhadap mantan Mendikbud tersebut.

Andai yang berkuasa di DKI sekarang adalah Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, bukan Anies Baswedan, apakah Ketua SC Piala Presiden 2018 Maruar Sirait (Ketua SC) akan berbuat sama, menyoret nama Ahok atau sebaliknya tersuruk-suruk  melangkah di sisi Ahok ?? *borneonusantaratime

(Pontianak, 180218)

Komentar anda:

(Visited 3 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.