Isu Orang Gila Bunuh Ulama, Meresahkan dan Mengerikan. Umat Islam Diminta Waspada !


Jenderal Pol (Purn) Anton Tabah (foto:istimewa)Jenderal Pol (Purn) Anton Tabah (foto:istimewa)
[ A+ ] /[ A- ]

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy - Copy“Hanya dalam hitungan hari,  dua ulama di Jawa Barat dianiaya oleh orang yang diduga sakit jiwa alias gila.  Umat Islam, terutama ulama harus waspada, karena  kasus ini kemungkinan bisa  berulang lagi ditempat yang berbeda dengan obyek serta pelaku yang beda pula dengan alibi pelakunya adalah sakit jiwa alias gila.”

HAL ini mengingat tahun 2018 adalah tahun politik yang bisa saja dimanfaatkan pihak-pihak tertentu  untuk kepentingan politik dan membuat kegaduhan di masyarakat.

Sejumlah kalangan mendesak Kepolisian mengusut kasus ini dengan tuntas secara tepat, benar, dan adil. Sementara tokoh-tokoh umat Islam perlu membuat Tim Pencari Fakta (TPF) independen, diluar langkah yang sudah dilakukan aparat kepolisian. Hal ini agar kasus pembunuhan ulama ini tidak terulang di tempat lain.

“Isu orang gila awal tahun 2018 ini lebih meresahkan dan mengerikan karena disertai dengan pembunuhan kiai dan ulama,” kata Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Pusat, Anton Tabah Digdoyo.

Mantan jenderal polisi ini menegaskan, isu orang gila menyerang ulama juga mengingatkan peristiwa menjelang jatuhnya Soeharto awal tahun 1998. Bedanya orang gila 1998 hanya bertebaran di jalan-jalan desa dan tidak membunuh. Tapi orang gila awal tahun 2018 targetnya membunuh ulama. Persamaannya sama-sama  meresahkan masyarakat luas.

Anton menuturkan, untuk memastikan dan menepis keraguan masyarakat bahwa yang melakukan orang gila maka harus ada tim dokter independen yang menyelidiki dan meneliti 2 tersangka yang telah ditangkap polisi. Perlu investigasi yang mendalam perlu dilakukan polisi seperti yang dilakukannya ketika ia masih menjabat Kadispen Polda Jateng dan DIY kala itu.

Kala itu, lanjut Anton,  ia membuat penelitian bersama Universitas Diponegoro (Undip) Semarang untuk mengungkap fenomena orang gila di Jawa Tengah.

“Harus dengan penelitian cermat.  Jangan cepat buat kesimpulan bahwa kasus di Jabar pemainnya sama seperti di Banyuwangi dan motifnya kacaukan Pilkada. Karena itu saya usulkan harus segera bentuk tim investigasi independen,” ujar Anton yang mengaku selama 36 tahun menjadi polisi belum pernah ditugaskan ke Jabar sehingga tidak mengetahui karakteristiknya.

Tanda Tanya

Sementara itu, pengamat intelijen dari The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya juga mendukung agar tokoh umat Islam yang concern advokasi kasus penyerangan ulama di Jabar perlu membuat Tim Pencari Fakta (TPF) independen, diluar langkah yang sudah dilakukan aparat kepolisian.

Pasalnya, lanjut Harist, karena dua kali kejadian tapi dengan obyek korban dan pelaku yang “sama” maka menjadi tanda tanya besar. Dua ulama menjadi korban dan dua orang yang diduga gila menjadi pelaku. TPF ini diharapkan bisa memberikan masukan dan mampu menjawab tanda tanya publik atas peristiwa tersebut.

Harits Abu Ulya (foto:salamonline)

Harits Abu Ulya (foto:salamonline)

“Jika benar gila paska pembuktian medis maka apakah ada kemungkinan orang gila tersebut dikondisikan atau di agitasi oleh pihak tertentu untuk melakukan aksi kriminal penganiayaan dan pembunuhan?” tanyanya.

Menurutnya, jika murni pelakunya tunggal bukan produk provokasi dan agitasi dan dalam kondisi sakit jiwa maka tidak bisa harus bebas dari jeratan hukum. Oleh karena itu umat Islam perlu waspada setiap ada upaya provokasi dan agitasi terbuka maupun tertutup yang bisa melahirkan kondisi keamanan tidak kondusif. Karena tidak menutup kemungkinan kasus ini akan berulang lagi ditempat yang berbeda dengan obyek serta pelaku yang beda pula dengan alibi pelakunya adalah sakit jiwa alias gila.

“Saya pernah jumpai kasus seorang ustad disatu kampung menjadi target penganiayaan dan tempat tinggalnya di bakar. Dan itu dilakukan oleh orang yang dikenal oleh publik setempat sebagai orang gila atau stress. Sang pelaku ini sebelum membakar itu bercerita kalau disuruh oleh sekelompok orang yang hasud terhadap ustad tersebut. Dan dikelompok tersebut ada mastermind nya,” ungkapnya.

Oleh karena itu, sambung Harits, dalam kasus Jabar maka pemain bisa saja beda tapi modus yang dipakai adalah sama. Jika peristiwa ini adalah produk “permainan” intelijen gelap maka motif dan targetnya adalah kepentingan politis. Tapi yang urgent sekarang bagi umat Islam adalah bersikap waspada dan proporsional menyikapi kondisi mengingat tahun 2018 adalah tahun-tahun gaduh politik. Sehingga  TPF independen perlu ungkap fakta dibalik persitiwa ini.*borneonusantaratime/harianterbit



Komentar anda:

komentar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *