Terungkap, Laporan Ngaco untuk Penjarakan Ustadz Alfian Tanjung. Profesionalis Polisi Dipertanyakan


alfian-tanjung-sidang_4
[ A+ ] /[ A- ]

 

Empat-Tahun-Tetap-Bersama-borneonusantaratime

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy - Copy“Aneh, delik aduan murni dilaporkan oleh orang lain, direspon polisi, Ustadz Alfian Tanjung pun ditangkap (lagi), diungkap oleh tim Advokasi pesakitan. Barang bukti pun kabur alias tak jelas.

TIM Advokasi Ustadz Alfian Tanjung (TAAT) menjelaskan, bahwa kliennya pada Selasa (12 September 2017) telah diperiksa sebagai Saksi oleh Ditreskrimum Polda Metro Jaya di Mako Brimob Depok.

Seperti diberitakan sebelumnya, setelah divonis bebas oleh hakim PN Surabaya, Rabu (6 September 2017), terkait tuduhan ujaran kebencian terhadap RAS atau etnis, ustadz yang vocal menyuarakan bahaya laten PKI ini, tak bisa menemui ibunya yang renta sedang sakit. Sang Ustadz langsung ditangkap lagi dan ditahan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, dengan kasus yang hampir sama, ditangani oleh Polda Metro Jaya.  (Artikel terkait > 9 September 2017 > Peristiwa: Lagi-Lagi Ustadz yang Ditangkap, Kali ini yang Vocal Menyuarakan Bahaya Laten PKI. Divonis Bebas, Tapi Ditangkap Lagi. Sisi Kemanusiaan Polisi Dipertanyakan).

 Dalam pemeriksaan kali ini sebagai Saksi,  Ustadz Alfian disodorkan sebanyak 29 pertanyaan. Pemeriksaan tersebut diketahui berdasar laporan yang dilaporkan oleh seseorang bernama Ifdhal Kasim. Setelah Tim Hukum menggali lebih dalam siapa sosok pelapor, ternyata ia adalah kuasa hukum Teten Masduki, sebagaimana diterangkan oleh Penyidik bernama Kuswandi kepada Tim Hukum.

“Teten merasa dirinya tercemar oleh Ustadz Alfian, sebagaimana di dalam ceramahnya pada tanggal 1 Oktober 2016 di Masjid Jamiq Said Naum – Tanah  Abang Jakarta Pusat,” kata koordinator TAAT,  Abdullah Al Katiri dalam keterangannya di  Jakarta, Rabu (13 September 2017).

Namun, lanjut Al Katiri,  Setelah Ustadz Alfian, Tim Hukum dan Penyidik sama-sama menyaksikan video yang dijadikan barang bukti, ternyata semua pihak yang menyimak tidak menyaksikan adanya kata-kata Alfian yang menyebut Teten Masduki sebagai PKI atau kader PKI.

“Lalu pertanyaannya, bagaimana Teten merasa dirinya dicemarkan sedangkan barang buktinya pun tidak menyebutkan hal itu?” tanya Al Katiri.

Lebih dari itu, jelas Al Katiri, ketika Penyidik bertanya kepada Alfian, atas dasar apa saudara mengatakan Teten Masduki adalah PKI/ Kader PKI? Alfian menjawab “saya tidak ada menyebut Teten itu PKI atau kader PKI”.

Menurut Al Katiri,  Alfian dilaporkan menggunakan pasal 310 KUHP dan atau Pasal 311 KUHP. Pasal tersebut adalah delik aduan murni, yang apabila seseorang merasa dirinya tercemar atau difitnah, maka ia sendiri yang harus melaporkan.

abdullah-al-katiri

Tapi nyatanya, sambungnya, pihak yang melaporkan adalah kuasa hukumnya.  Hal ini tidak bisa dilakukan dalam hukum acara pidana, tapi kenapa Polisi menerima laporan Ifdhal Kasim? Sedangkan yang merasa dirugikan adalah Teten Masduki, harusnya Teten sendiri yang melapor atas nama dirinya.

“Ini kan menyalahi aturan hukum. Mana ada delik aduan tapi pelapornya orang lain? Menurut kami kasus ini sudah cacat sejak awal, harusnya Polisi menolak laporan tersebut, apalagi barang bukti video yang disodorkannya tidak ada sama sekali kalimat ujaran pencemaran nama baik atau fitnah,” jelas Al Katiri.

Al Katiri menegaskan bahwa apabila penegakkan hukum seperti ini modelnya,  maka Ustadz Alfian sangat dirugikan oleh tindakan aparat penegak hukum. Hal tersebut, ia berpendapat,  berpotensi akan terjadi juga kepada siapa pun. Al Katiri merasa aneh bahwa delik aduan dapat dikuasakan kepada orang lain untuk melaporkannya.

“Kami sangat menyesalkan proses penyelidikan terhadap Ustadz Alfian ini, karena itu perkara dengan nomor laporan: LP/153/II/2017/Ditreskrimum ini tidak layak dilanjutkan atau harus dihentikan demi hukum, ” pungkasnya.

Apakah karena Teten Masduki adalah Kepala Staf Kepresidenan, sehingga hukum tumpul di atas tajam ke bawah? *borneonusantaratime/voa-islam/kiblatnet

pita-merah-please-share



Komentar anda:

komentar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *