Syarif Mohdar Baraqbah: Wajah Kebudayaan Kota Pontianak Kini Seolah Terkoyak, Kedamaian Seakan Tinggal Basa-basi


Ketua Arabitah Cabang Pontianak, Syarif Mohdar Ali Baraqbah, S.SosKetua Arabitah Cabang Pontianak, Syarif Mohdar Ali Baraqbah, S.Sos
[ A+ ] /[ A- ]

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy - Copy“Pada hakekatnya haul Sultan Syarif Abdurahman Alqadri, bukan sekadar ritual tahunan yang menyibukan masyarakat muslim, tapi memiliki makna penting bagi umat.”

DEMIKIAN dikatakan oleh Ketua Arabitah Cabang Pontianak, Syarif Mohdar Ali Baraqbah dalam kata sambutannya, sebelum haul tersebut dimulai, Kamis (21 September 2017) bertepatan dengan 1 Muharam 1439 H.

Syarif Mohdar pun mengeritisi kondisi Kota Pontianak saat ini. Di dalam peringatan ini, katanya, kita diajak untuk mengenang kembali orang yang paling berjasa mendirikan Kota Pontianak ini, ialah Sultan Syarif Abdurrahman Alqadri. Apalagi haul kali ini dinilai penting, mengingat tahun ini merupakan waktu menjelang pergantian kepemimpinan Kota Pontianak. “Jadi  haul ini, hendaknya dijadikan pelajaran bagi masyarakat untuk melihat sejarah guna menimbang masa depan Pontianak,” ujarnya.

Diuraikannya antara lain, bahwa di dalam batas tertentu, Pontianak saat ini mulai nampak kehilangan wajah kebudayaannya. Bahwa Sultan Syarif Abdurrahman Alqadri membangun kota ini (246 tahun silam, Red.) untuk berbagai suku, sehingga tidak diragukan lagi,   bahwa masyarakat Pontianak dikenal memiliki keragaman di dalam banyak hal. Mereka dapat hidup berdampingan secara damai, aman, dan tenteram, tiada kegelisahan yang terselubung di pikiran warganya.

Empat-Tahun-Tetap-Bersama-borneonusantaratime

Namun, lanjutnya, di tahun-tahun terakhir ini, Pontianak dikenal sangat sensitif  terhadap isu berbau SARA. Pertikaian antarsuku sesekali terdengar liar di masyarakat, hingga menghantui sebagian warga. Hidup berdampingan di antara mereka sebagaimana wajah kebudayaan masa awal seolah-olah terkoyak, kedamaian seakan tinggal basa-basi di tengah masyarakat.

Di masa lalu, Sultan Syarif Abdurrahman Alqadri dikenal terbuka kepada masyarakat pendatang tanpa pandang bulu, mereka dipersilakan menjadi warga kota. Sultan pun tidak segan-segan mengusir warga yang tidak taat pada aturan, tidak boleh ada seorang pun pengacau hidup di Pontianak. Hal ini tegas ada dalam undang-undang Kesultanan di masa awal.

Di masa setelahnya (setelah Sultan Syarif Abdurrahman, Red.), banyak pengacau dibuang dari kampung halamannya, karena keberadaan mereka jadi sumber masalah yang mengganggu ketenteraman. Namun dipersilakan tinggal di Pontianak, dengan syarat harus bisa membangun kehidupan bersama.

“Masyarakat Pontianak  di zaman ini harus mampu mengambil pelajaran generasi sebelumnya. Mereka perlu sadar terhadap keragaman di Pontianak yang telah digariskan dalam sejarah, pemimpinnya hendaknya dapat meniru Sultan Syarif Abdurrahman Alqadrie  mengambil kebijakan. Mereka harus berjuang keras menjaga warga warga kota untuk tetap dalam bingkai ketertiban,” harap Syarif Mohdar.

Ia pun melanjutkan, bahwa Pontianak perlu dikembalikan kepada kebudayaan asalnya, sehingga masyarakat tidak tercabut dari identitasnya. “Pontianak sebagai negeri Melayu yang terbuka bagi semua masyarakat perlu terus dipertahankan – yang tentu menuntut kebijakan penguasa untuk berpihak pada kearifan lokal, seperti pengelolaan dan pembangunan Pontianak yang berwawasan kebudayaan.”

“Dinamika sosial-politik di ranah struktual harus dikelola dengan baik, agar tidak meminggirkan identitas Pontianak sebagai negeri Melayu. Hal demikian itu, adalah pilar dasar guna guna menopang ketenteraman di tengah masyarakat,” tutupnya. *borneonusantaratime



Komentar anda:

komentar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *