Khudbah Idul Adha di Pontianak: Para Pemimpin Diminta Menyembelih Sifat Kebinatangan yang Ada pada Diri Mereka


Khotbah-Idul-Adha-2017
[ A+ ] /[ A- ]

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy - Copy“Sekurang-kurangnya ada dua hikmah dalam ibadah qurban, yaitu hikmah Vertikal dan hikmah Horizontal. Apakah gerangan?”

KEDUA hikmah dipaparjabarkan oleh Drs.H.Maslihan Saifurrozi, SH, MH., khatib Salat Idul Adha 1438 H, Jumat (1 September 2017), di lapangan terbuka (Jalan Rahadi Oesman) depan Balai Kota Pontianak, Imam – H.Syahbandi A.Rahman.

Lapangan dipadati ratusan ribu jamaah salat Ied bersama para unsur pimpinan daerah Kota Pontianak – selain juga diselenggarakan di beberapa masjid seperti Masjid Jamiq Sultan Abdurahman di Pontianak Timur, Masjid Raya Mujahidin di Pontianak Selatan, Masjid Agung Alfalah di Pontianak Barat, dan beberapa di tiga kecamatan lain.

Dalam khotbahnya, khatib Syahbandi menyampaikan antara lain; Peristiwa kemanusiaan dalam sejarah sepanjang kehidupan manusia yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan anaknya – Nabi Ismail, yaitu pengorbanan yang bermuara pada iman dan taqwa kepada Allah SWT.

Keteladanan yang dicontohkan Nabi Ibrahim dan isterinya – Siti Hajar untuk mendapatkan anak yang shaleh, orang tualah yang terlebih dahulu menjadi orang yang shaleh. Karena siap jadi orangtua, harus siap jadi teladan untuk keluarga, bukan sekadar menyukupi makan dan kebutuhan anak.

Sekurang-kurangnya ada dua hikmah dalam ibadah qurban, yaitu hikmah Vertikal dan hikmah Horizontal.

Qurban dari kata qaraba yaqrabu qurbanan yang artinya ‘dekat’. Olehkarena itu, ibadah qurban secara vertical adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT – sedangkan   secara horizontal, qurban membangun hubungan kebersamaan dan pemerataan daging qurban dalam masyarakat.

Penyembelihan qurban, ujar khatib Syahbandi, adalah simbol  dari penyembelihan atau penghilangan sifat-sifat kebinatangan yang ada pada manusia.

“Kepada para pemimpin, bukan hanya berkurban – akan tetapi juga harus menyembelih sifat-sifat kebinatangan yang ada pada mereka, bersih dari korupsi dan kolusi untuk kepentingan diri maupun dari politik golongan pengusungnya dan nepotisme, sehingga akan bermartabat di di sisi Allah dan bermartabat di mata bangsa,” tegas khatib Drs. H.Maslihan Saifurrozi, SH., MH. *borneonusantaratime pita-merah-please-share

 

 



Komentar anda:

komentar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *