Catatan Kecil Buat Elite Gagal Paham Genosida Rohingya


Kolom-Catatan Kecil Buat Elite Gagal Paham Genosida Rohingya
[ A+ ] /[ A- ]

                                         Opini, Effendy Asmara Zola                                                                                                          Logo-BNT-Baru-2016 - Copy - CopyKalau tidak ada berada, masakan Tempua bersarang rendah.  Apa yang menjadi sebab-musabab burung kecil dan unik tersebut, membuat sarang rendah berjuntai dari dahan, agar mudah menyambar mangsa, serangga-serangga kecil yang melintas di tanah di bawah sarangnya.”

 PRIBAHASA itu patut didalami oleh Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) – Muhaimin Iskandar (Cak Imin) yang angkat bicara ihwal pembantaian terhadap  etnis Rohingya di Miyanmar agar tak gagal paham akan hal-ihwal ini.

Dengan enteng alias tanpa beban, Cak Imin menganggap peristiwa kekerasan berdarah yang merenggut ratusan jiwa dan ratusan ribu pengungsi Muslim Rohingya setahun terakhir ini, tidak ada kaitannya dengan konflik antara umat Islam dan Budha. (KOMPAS.com, Minggu 3 September 2017).

“Ini perlu kami sampaikan supaya jangan peristiwa di Myanmar disalahpahami sebagai konflik agama. Ini tidak ada kaitannya dengan konflik agama,” ujar Muhaimin yang didampingi Ketua Dewan Syuro PKB – Abdul Gofur saat menghadiri dialog dengan para Bhiksu dan pemuka agama Budha di Wihara Dharma Bakti, Glodok, Jakarta Barat, Minggu (3 September 2017).

Bak gayung bersambut,  Bhiksu Dutavira Mahastavira atau Suhu Benny menyatakan pandangan yang sama. Lalu usai acara, Wakil Sekjen PKB – Daniel Johan, setali tiga uang dengan mengatakan, bahwa kekerasan di Miyanmar sama sekali bukan masalah agama and so on and so on.

Sementara tetangga sebelah, Ketua Umum Pemuda Buddhis Indonesia – Bambang  Patijaya, menuding pejuang Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA)  sebagai penyebab genosida Rohingya yang terjadi setahun terakhir ini. Menurutnya, ARSA telah melakukan penyerangan terhadap pos polisi dan militer. (Kiblat.net, Rabu (6 September 2017).

Pengungsi Rohingya (AP Photo)

Pengungsi Rohingya (AP Photo)

Ia menyebut ARSA sebagai gerakan separatis yang direspon militer Miyanmar dengan operasi militernya, sehingga kemudian tragedi kemanusiaan terjadi, seperti    disampaikannya kepada Kiblat,net di gedung Muhammadiyah – Jakarta (Selasa 5 September 2017).

Bertolak dari pribahasa tadi,  terlalu “lebai” – menurut bahasa gaul, jika alih-alih tanpa beban menyebut genosida Rohingya tidak terkait soal agama tanpa menyimpulkan sebab musabab mengapa sampai terjadi. Siapa gerangan yang gagal paham?

 Ini bukan berita atau foto hoax, karena berdasarkan laporan  para jurnalis kelas dunia seperti dari TIME, Reuters, AP, AFP, dll., bahwa adalah Ashin Wirathu,  seorang biksu Buddha yang menjadi penyebab pembantaian besar-besaran secara sistematis (genosida), terhadap etnis Rohingya yang nota bene adalah muslim hingga mereka membawa nyawa dalam derita, eksodus dari Burma.

Ashin Wirathu, sang otak pembantai muslim Rohingya *TIME)

Ashin Wirathu, sang otak pembantai muslim Rohingya (TIME)

Lambang Mesin Pembunuh, Squad 969

Lambang Mesin Pembunuh, Squad 969

Si “Burung Tempua” Ashin Wirathu disebut majalah TIME sebagai tokoh paling controversial abad ini dan mendapat cap provokator di balik jubah biksunya. Sebab ia mulai khawatir atas perkembangan agama samawi yang begitu pesat di bumi Myanmar, sehingga dia amat membenci kaum muslim. Maka dia meyakini ada konspirasi besar yang akan mengubah Burma menjadi negara Islam.

 Disebabkan oleh kekhawatirantak berdasar itulahlah, serta-merta  dia membentuk kelompok bernama SKUAD 969. Lambang SKUAD 969  mengacu pada sembilan atribut Buddha, enam ajaran dasar, dan sembilan perintah monastik berkaitan dengan spiritual untuk tingkatan mencapai nirwana. Salah satu tugas mereka menghancurkan kekuatan asing yang ingin membinasakan Buddhisme, dan kekuatan asing itu menurutnya adalah Islam.

 SKUAD 969 melancarkan serangan-serangan seporadis pada kaum muslim, termasuk benda-benda kepemilikan mereka bahkan rumah ibadah. Puluhan masjid menjadi puing di tangan SKUAD 969.

Islam memang tumbuh cepat di Myanmar, hingga 2014 saja sekitar 35 persen penduduk negara ini berpindah keyakinan menjadi muslim, padahal di tahun sebelumnya hanya empat persen.  Bagi beberapa tokoh Buddha garis keras, termasuk Wirathu, hal tersebut jadi ancaman, apalagi penduduk muslim kebanyakan kaum pendatang yang cukup sukses membuka usaha.

Muslimah dan anak-anak pengungsi Rohingya (Reuter)

Muslimah dan anak-anak pengungsi Rohingya (Reuter)

Berbagai toko kebutuhan sehari-hari dan bisnis-bisnis penting justru digerakkan oleh umat Islam. Wirathu menganggap hal ini sebagai ancaman posisi bagi penganut Buddha.

Dengan logika ‘sederhana’, jika makin banyak penduduk Buddha membeli barang-barang milik muslim maka makin makmur pengikut Nabi Muhammad SAW.

Untuk itulah SKUAD 969 dibuat. Kelompok ini bergerak progresif menyerukan warga Buddha agar melakukan jual beli sesama saudara seiman. Mereka juga menandai setiap toko milik umat Buddha dengan stiker.

 SKUAD 969 berdalih, mereka melindungi budaya dan identitas Burma yang identik dengan Buddha. Mereka rajin menyebar rumor soal biadabnya kaum muslim, dan tuduhan menyesatkan ini membuat banyak media melabeli Wirathu sebagai ‘Buddhist Bin Laden’. Bahkan TIME juga menulis Wirathu sebagai ‘The Face of Buddhist Terror’ atau Wajah Teror Buddha, dan Ashin Wirathu menjadi cover majalah ternama TIME. Ngeri, nggak Cak Imin?

Dan yang lebih mengerikan lagi, pemerintah Myanmar mendukung kampanye kebencian Wirathu pada kaum muslim. Itulah mengapa hingga detik ini Junta Militer tak menindak SKUAD 969 dan tak menangkap biksu radikal itu, hingga akhirnya ratusan kematian terjadi dalam tiga tahun terakhir.

Suku Rohingya yang sebagian besar kaum muslim ikut kena getah dari kampanye anti-Islam milik Wirathu. Mereka terusir dari Burma dan tidak lagi mengerti kemana harus pulang.

Satu-satunya harapan yakni menuju beberapa negara yang mayoritas muslim. Mereka berpikir, barangkali saja sesama saudara seiman akan menolong. Namun apa lacur, Malaysia menolak mereka mentah-mentah. Etnis Rohingya ini pun terombang-ambing di laut dengan kapal ala kadarnya yang mereka gunakan untuk lari dari konflik Buddha-Islam di Burma.

Sampailah Suku Rohingya di Indonesia, Aceh, dengan segenap penderitaannya setelah sekian lama terkatung-katung di tengah lautan.

Sebagai bangsa yang welas asih, kita harus bangga jika bisa membantu mereka, paling tidak memberikan rasa aman dari ketakutan, sebab ancaman SKUAD 969 dan Ashin Wirathu Bukan karena keyakinan, melainkan kemanusiaan. “Semoga cara terbaik bisa menyelesaikan persoalan ini. Aamiin”, tulis bintang.com

Puing rumah pengungsi Rohingya yang diklaim pemerintah Myanmar dibakar sendiri oleh pengungsi, padahal rumah dibakar setelah pemiliknya pergi mengungsi. Gerakan wartawan dibatasi dan diawasi oleh militer (Reuter)

Puing rumah pengungsi Rohingya yang diklaim pemerintah Myanmar dibakar sendiri oleh pengungsi, padahal rumah dibakar setelah pemiliknya pergi mengungsi. Gerakan wartawan dibatasi dan diawasi oleh militer (Reuter)

Kekerasan mematikan makin memburuk di negara bagian Rakhine, Myanmar. Dalam tiga hari terakhir saja hingga Minggu (27 Agustus 2017),  hampir 100 orang tewas.

Korban tewas meningkat karena bentrokan bersenjata antara tentara dan militan Rohingya berlanjut. Untuk hari ketiga, Minggu kemarin, seperti diberitakan kantor berita Perancis, AFP, dan media Inggris, The Guardian.

Pemerintah Burma telah mengevakuasi setidaknya 4.000 warga desa hanya non-muslim di tengah bentrokan yang berlangsung di Rakhine barat laut. Sedangkan Ribuan Muslim Rohingya melarikan diri ke Bangladesh.

Dari fakta di atas berdasarkan laporan para jurnalis di kawasan konflik, pertanyaan buat Cak Imin Cs dan elite lainnya yang barangkali sejalan dengan sudut pandang Cak Imin serta Suhu Benny dan Ketum Pemuda Budhis Indonesia – Bambang Patijaya, masihkah akan dengan dingin memandang pembantaian terhadap muslim Rohingya bukan soal konflik agama?

Semoga Cak Imn Cs. kembali ke jalan yang benar dan tidak gagal paham lagi atas genosida Rohingya di Burma tersebut. Amiin ! *borneonusantaratime  (pontianak, kalimantan barat, malam jumat, 070917, 09.45 wib)



Komentar anda:

komentar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *