Prof. Romli Beberkan Borok KPK, 36 Orang Jadi Tersangka Tanpa Bukti


Karikatur-Gedung-KPK
[ A+ ] /[ A- ]

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy“Prof. Dr. Romli Atmasasmita membeberkan sejumlah `borok` Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), yang selama ini bekerja tidak sesuai dengan prosedur. Terutama soal metersangkakan seseorang. Antara lain kasus bekas Wakapolri Jenderal Budi Gunawan dan mantan Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Hadi Poernomo.”

PADA kasus Budi Gunawan dalam kasus rekening gendut misalnya, kata penggagas Undang-undang KPK ini, ia langsung didatangi Budi Waseso yang ketika itu masih menjabat sebagai Kepala Badan Reserse Kriminal Mabes Polri untuk menjadi ahli pidana dalam sidang praperadilan.

Atas permintaan itu, Guru Besar Hukum Pidana itu pun meminta sejumlah bukti pada Budi. “Lalu disampaikan lima lembar hasil dari KPK. Saya bilang kalau lima lembar main-main ini,” kata Romli pada Rapat Pansus Angket KPK di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat pekan silam, Senin (24 Juli 2017), seperti dipublikasikan oleh Harian Terbit, Rabu (26 Juli 2017).

Hadi Poernomo

Setelah kasus Budi Gunawan, Pria asal Cianjur, Jawa Barat itu mengaku kembali diminta menjadi saksi ahli untuk kasus Hadi Poernomo yang ketika itu dipraperadilkan juga.

“Saya tanya apa sebabnya jadi tersangka, dia ceritakan bagaimana hubungan dengan pimpinan KPK ketika itu tidak baik. Sehingga muncul cerita Hadi Poernomo, ada ancam-ancaman bahwa Hadi Peornomo ada yang salah sehingga ketika pensiun jadi tersangka,” kata Romli.

Tak lama setelah itu, kata dia, dua pimpinan KPK yakni Abraham Samad dan Bambang Widjojanto jadi tersangka terkait dua kasus berbeda. Presiden Joko Widodo pun, kata dia, meminta masukan.

Romli pun meminta kepada Presiden Joko Widodo supaya dua pimpinan diberhentikan, karena dalam Undang-undang KPK seseorang yang menyandang status tersangka harus diberhentikan.

Usai diberhentikan, Jokowi kembali bertanya orang yang pas untuk memimpin KPK. Romli lantas mengajukan nama Taufiequrachman Ruki. Presiden lantas melantik Ruki menjadi Pelaksana tugas menggantikan Samad yang menjadi tersangka. Saat itu lah, ujar Romli, terkuak 36 orang menjadi tersangka tanpa bukti permulaan yang cukup.

“Saya bilang, Pak Ruki, maaf, tapi saya lihat ada masalah dalam KPK, tolong digelar perkara, cek apa benar pekerjaan KPK dilakukan sesuai aturan.”

Tiga bulan setelah itu, Romli diundang dalam pertemuan. Hadir dalam pertemuan itu, Ruki, Indriyanto Seno Adji, Zulkarnaen, Adnan Pandu Praja dan Ketua Bidang Penindakan Warih Sandono.

“Ruki menyampaikan, Prof setelah kami gelar perkara, ada 36 tersangka bukti permulaan nggak cukup. Saya bilang, bukan satu? Kalau 36 nggak ngerti saya. Level polsek saja nggak gitu. Namun saya katakan gimana cara KPK menyelesaikan 36 tersangka lalu harus lanjut ke pengadilan karena nggak bisa di SP3.”

Usai mendengar itu, Romli mengaku sangat kecewa. Padahal, kata dia, sebagai salah satu orang pembentuk KPK , dia sangat berharap lembaga antirasuah itu bisa menjadi lembaga yang profesional dan bekerja lebih baik dari kepolisian dan kejaksaan yang saat itu dinilai belum mampu melakukan pencegahan korupsi.

Romli sempat menanyakan pada Zulkarnaen alasan 36 orang menjadi tersangka tapi belum cukup bukti. Jawaban Zulkarnaen ternyata juga mencengangkan. “Katanya (Zulkarnaen), saya kalah suara. Gimana ini?”

Hal yang sama juga dijawab oleh Warih. Dia bilang, kerap kali saat seseorang menjadi tersangka di KPK, perannya diloncati oleh pimpinan. Terkait pengakuannya itu, Romli meminta Pansus Angket KPK memanggil Ruki, Zulkarnaen, Indriyanto dan Adnan Pandu. Dia bilang Pansus silakan mengklarifikasi hal itu.

“Semua harus menjadi jelas, bahwa ada masalah di KPK. Tidak boleh ditutup-tutupi. Pimpinan lama tidak boleh munafik, cerita apa adanya bukan untuk menghancurkan KPK, bukan untuk membubarkan KPk.” *borneonusantaratime/HanTer



Komentar anda:

komentar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *