Amien Rais: 72 Tahun Indonesia Merdeka Pancasila Makin Hampa, Keadilan Sosial jadi Kedzaliman Sosial Terhadap Rakyat yang Sudah Lama Menderita


amien rais (merdeka)amien rais (merdeka)
[ A+ ] /[ A- ]

pita-merah-please-share

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy - CopyPolitisi senior Amien Rais menyoroti persoalan pemahaman dan penerapan Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.”

HAL ITU  disampaikan oleh Amien saat menghadiri upacara detik-detik proklamasi kemerdekaan bangsa Indonesia di Universitas Bung Karno, Jakarta, Kamis (17 Agustus 2017)).

“Saya lihat Pancasila sebagai state ideologi dan filosofi, memang makin lama makin hampa. Mulai dari anak sekolah, lurah hingga pejabat. Barangkali hapal secara lisan, tapi dalam praktek berbangsa dan bernegara tidak terealisasi,” ungkap Amien.

Menurut Amien, lima sila dalam Pancasila mengalami pergeseran dalam era kini. Seperti sila pertama, yang dalam prakteknya, kini hanya mengedapankan uang.

“Dalam praktek ‘Ketuhanan Yang Maha Esa’, berubah jadi ‘Keuangan Yang Maha Digdaya’,” tutur mantan Ketua MPR RI itu.

Begitu juga dengan sila kedua, yang berbunyi, “Kemanusiaan yang adil dan beradab” berubah menjadi “Kemanusiaan yang tidak begitu adil dan sedikit biadab”.

Kemudian perihal sila ketiga, “Persatuan Indonesia” juga tidak lagi terpenuhi unsurnya. Yang terjadi, lanjutnya, pecah belah diberbagai bidang.

“Partai dipecah, umat Islam diadu. Kita sudah mencari siapa di balik semua ini. Karena ini, melemahkan bangsa kita. Ada siluman tertentu yang ingin memecah belah bangsa kita,” paparnya.

Selain itu, dalam sila keempat “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dal permusyawaratan perwakilan” juga telah berubah makna.

“Kenyataannya, semakin lama musyawarah semakin ditinggal. Adu kuat adu otot, bahkan adu keuangan. Ini harus kita hentikan,” imbaunya.

Sementara itu, pada sila kelima perihal “Keadilan Sosial,” menurut Amien, tidak ada wujud keadilan dalam kehidupan berbangsa. Justru yang terjadi, kedzaliman yang diarahkan kepada rakyat.

“Yang terjadi, ‘kedzaliman sosial terhadap rakyat yang sudah lama menderita’. Jadi kita merdeka 72 tahun mestinya sentosa, dan jadi teladan. Tapi, ternyata masih begini. Utang makin bergelembung. Rakyat makin banyak yang lapar. Ada sesuatu yang salah,” pungkasnya. *borneonusantaratime/posmetro



Komentar anda:

komentar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *