Setelah Para Ulama, Giliran Guru Agama Dikriminalisasi. Muhammadiyah Turun Tangan


Bu-Guru-Miris
[ A+ ] /[ A- ]

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy“Muhammadiyah memandang, Bu Guru Agama, Darmawati yang divonis bersalah karena menyuruh siswinya shalat zuhur di musola sekolah, sebagai bentuk kriminalisasi.”

SEPERTI diberitakan terdahulu, seorang guru agama, oleh hakim Pengadilan Negeri Parepare, divonis bersalah atas tuduhan Jaksa Penuntut Umum (JPU) bahwa Ibu Guru tersebut telah memukul siswa yang tidak shalat. (Artikel terkait terdahulu > 29 Juli 2017 > Hukrim : Miris! Bu Guru ini Dipidana karena Perintahkan Shalat, Dikeruhkan Oknum LSM)

Majelis Hakim  Pengadilan Negeri Parepare menyatakan guru agama SMA Negeri 3 Parepare Sulawesi Selatan itu bersalah karena memukul siswinya. Darmawati pun dijatuhi hukuman 3 bulan penjara dengan masa percobaan 7 bulan

Ketua Pemuda Muhammadiyah Kota Parepare, Yadi Arodhiskara menyesalkan keputusan hakim. Ia menilai keputusan hakim yang menyatakan Darma bersalah tersebut kurang mempertimbangkan fakta hukum.

“Ada beberapa fakta hukum yang kurang begitu didalami oleh hakim. Apalagi hakim tidak mempertimbangkan keberadaan PP 74/2008 tentang Guru, pasal 39 ayat 1 dan ayat 2, dan Permendikbud 10/2017 tentang Perlindungan Bagi Pendidik dan Tenaga Kependidikan,” tegas Yadi, dikutip borneonusantaratime dari eramuslim, Minggu (30 Juli 2017)

Ia menilai kasus Darma terkesan dipaksakan sebagai pidana. Atas alasan itu juga Pemuda Muhammadiyah Kota Parepare akan melakukan pendampingan hukum pada Darma sebagai bentuk implementasi kepedulian, visi kota pendidikan, serta upaya meninggikan dan memuliakan profesi guru.

“Kami dengan tegas menolak segala bentuk kriminalisasi kepada guru, termasuk yang menimpa Ibu Darma,” jelasnya.

Dalam waktu dekat ini, Pemuda Muhammadiyah akan mendukung Darma untuk melakukan banding atas kasus ini.

“Terang, kami mendukung Ibu Darma untuk melakukan banding atas vonis tidak adil yang dijatuhkan Pengadilan Negeri Parepare,” pungkasnya.

Kasus ini terjadi pada Februari 2017, ketika Darma mendapati sekelompok siswi berkeliaran saat waktu Salat Zuhur. Padahal sekolah telah mengeluarkan kebijakan yang mewajibkan pelaksanaan salat di mushala.

“Saya tegur mereka dan mengibas siswi yang tidak salat dengan mukenah. Ternyata atas peristiwa tersebut, salah seorang siswi melapor. Padahal saya tegur hanya untuk kebaikannya dan menggugurkan kewajiban saya sebagai orang tuanya di sekolah,” jelas Darma.

Menurut Darma, ia hanya ingin agar siswa disiplin. Tuduhan yang menyebut siswa terebut memiliki bekas luka sampai dirawat di puskesmas adalah dibantah. Dia juga mementahkan tudingan yang menyebut dia memukul siswa memakai sepatu berulang-ulang. *borneonusantaratime/eramuslim (re-edit)



Komentar anda:

komentar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *