“Mandi-mandi” Sultan Pontianak IX Setelah Penobatan, Ini Filosofinya:


Mandi-Mandi-Penobatan-Sultan-Pontianak-IX
[ A+ ] /[ A- ]

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy“Selama ini kita hanya mengenal popularitas budaya ‘mandi pengantin’, yaitu ritual adat ‘mandi-mandi’ pasangan pengantin pasca pernikahan. Lalu, apa pula filosofinya Mandi-mandi terhadap seorang Raja atau Sultan yang baru dinobatkan?”

 BEBERAPA macam ritual ‘mandi-mandi’ lainnya yang dikenal, misal ‘Mandi Balimau’   atau “Mandi Bersama’ berdasarkan syariat dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan dan sebagainya. Semua dengan spesifik filosofinya masing-masing yang umumnya dilakukan pada sore atau malam hari.

Begitu pula pada Putera Mahkota Seri Mahkota Maharaja Syarif Machmud Melvin Alqadrie dari Kerajaan Qadriyah pasca dinobatkan menjadi Sultan Pontianak IX, Sabtu (15 Juli 2017) sore, oleh internal keluarga besar Kerajaan Qadriyah dilakukan pula ritual adat ‘mandi-mandi’ , Minggu (16 Juli 2016) sebagai penutup dari seluruh rangkaian acara penobatan.

Budaya adat ‘mandi-mandi’ pada Sultan yang baru dinobatkan tersebut,  merupakan identitas masyarakat Melayu yang kental bernuansa Islami. Ia merupakan ritual yang mengharap berkah dari Allah SWT  dan berkaitan erat dengan doa  selamat dalam menjalankan anugrah yang diterima, dalam hal ini menjaga Marwah Kerajaan Qadriyah yang telah berumur 246 tahun itu.  Pelaksanaannya dikemas dalam tatacara tertentu tanpa menyalahi Syariat.

Ritual ‘mandi-mandi’ setelah penobatan Sultan tersebut merupakan adat istiadat yang dipertahankan sejak Sultan Syarif Abdurakhman Alqadrie yang mendirikan kota Pontianak pada 23 Oktober 1771M. Jadi dilaksanakan secara turun temurun garis lurus Kerajaan Qadriyah, filosofinya untuk membersihkan jiwa dan raga sebagai penangkal, setelah penobatan – guna  membentengi diri dari berbagai halangan atau rintangan yang mungkin saja terjadi baik terang maupun gelap.

Dalam pelaksanaan  ‘mandi-mandi’ tersebut, dalam hal ini Sultan Pontianak IX Syarif Machmud Melvin Alqadrie tidak sendirian, tapi duduk ‘mandi-mandi’ bersama isteri –   Ratu Mas Agung Nina Widi Astuti.

Dalam ritual adat ‘mandi-mandi’ umumnya, didukung seperangkat perlengkapan, antara lain; tempat duduk khusus bagi yang bersangkutan, wadah untuk menampung air berisi bunga 7 rupa, gayung, mayang pinang, pelita atau lilin yang diletakan di meja tempat perangkat disediakan, telur ayam 3 atau 2 butir,  dua butir kelapa muda, jarum-benang dan sebagainya sesuai kebutuhan sebagai pelengkap.

Prosesinya biasanya dilakukan oleh para tetua keluarga dekat yang berhajat bergiliran,  dipandu oleh seorang ahli di bidang ritual ‘mandi-mandi’. Usai prosesi ‘mandi-mandi’ ditutup dengan pembacaan Doa Selamat dan Doa Tolak Bala, sementara yang di’mandi-mandi’kan masuk kamar atau tempat yang sudah ditentukan untuk bersalin pakaian. *borneonusantaratime



Komentar anda:

komentar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *