Gubernurnya Provokator, Isteri Wakilnya Tak Beradat


Majelis acara Malam Takbiran di Kampung Kamboja. Nyonya Wakil Gubernur duduk tak beradat.Majelis acara Malam Takbiran di Kampung Kamboja. Nyonya Wakil Gubernur duduk tak beradat.
[ A+ ] /[ A- ]

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy“Sepekan Lebaran, meninggalkan kenangan pahit dan menjadi buah bibir  di lingkungan keluarga besar dan kerabat Kerajaan Qadriyah, kota Pontianak.”

BETAPA tidak, pelaksanaan penyulutan Meriam Karbit pada festival dalam rangka menyemarakan Malam Takbiran, Sabtu (24 Juni 2017), dianggap telah menyepelekan kekhadiran Sultan Syarif Mahmud Alqadri, SH bin Sultan Syarif Abubakar Alqadri yang datang menghormati undangan panitia.

Turun dari Istana Qadriyah berseragam kebesaran Kerajaan dengan bertakbir dan bersalawat diiringi seperangkat Tar Pusaka Kerajaan, setibanya di lokasi festival, Sultan dan rombongan seperti terasing di rumah sendiri. Hal ini membuat  Panglima Kerajaan dan beberapa Pangeran yang menyertai, menjadi gusar bukan kepalang.

Di lokasi penyelenggaraan, di tepian Sungai Kapuas Kampung Kamboja – Kelurahan Melayu Laut, protokol acara yang dikenal sebagai  MC senior dari RRI Stasiun Pontianak, Wanto, ternyata tak memahami adat budaya Melayu yng kental bernuansa Islami.

Salah seorang Pangeran, Syarif Hamdan Alqadri  yang mengawal Sultan Melvin (panggilan akrab Sultan Syarif Mahmud Alqadri), mengecam MC senior itu. Disesalkan, pemukulan Tar untuk mengawali  penyulutan Meriam Karbit diserahkan kepada Gubernur Kalbar, Cornelis.

“Ini kan gawenya kota. Mestinya sebelum meriam dinyalakan, diawali dengan pemukulan Tar dengan Bismilah, Takbir, dan Bersalawat oleh Sultan dan atau Walikota Pontianak yang Muslim. Apalagi ini Tar Pusaka Kerajaan, tidak sembarangan dikeluarkan. Tidak ada kata-kata lain selain Takbir dan Salawat,” kata Syarif Hamdan geram.

“Lain halnya jika ada susulan  pihak lain diberi kesempatan menyucul (menyulut) meriam sebagai penghormatan, lain cerita, tak masalah,” tambah Syarif Hamdan.

“Tar Kerajaan itu mesti disertukan (disucikan, Red.) dulu sebelum dibawa balik ke Istana Kerajaan,” ujarnya gusar.

Seorang Pangeran lainnya, Syarif Umar Alqadri,  juga menyayangkan keteledoran panitia penyelenggara. Mengingat historis awal eksistensi Meriam Karbit, sebagai perlambang kedigjayaan  Abdurakhman Alqadri  dengan Takbir dan Salawat memerangi mahluk-mahluk halus penghuni hutan belantara yang dibuka dan belakangan mendirikan kota Pontianak pada 23 Oktober 2017, lalu menjadi Sultan Qadriyah yang pertama, Sultan Syarif Abdurakhman Alqadri nan sakti.  Juga perlambang kedigjayaan mememerangi hantu-hantu berkepala hitam alias lanun (perompak) pelarian dari Mongolia yang kalah perang tersesat di Bumi Borneo.

 

Duduk sederetan, Walikota Sutarmidji dan Sultan Melvin berpakaian kebesaran Kerajaan warna hijau.

Duduk sederetan, Walikota Sutarmidji dan Sultan Melvin berpakaian kebesaran Kerajaan warna hijau.

“Kita masih mengawal kasus penistaan agama oleh Cornelis yang menyebut dirinya provokator pengusiran Ulama yang masuk Kalimantan Barat ini, kita tetap menunggu proses hukumnya,” ujar kerabat Kerjaan Qadriah lainnya, di hari Sultan Melvin menyelenggarakan open-house bagi warga Pontianak, pada hari pertama Idul Fitri 1438 H ini di Istana Qadriyah.

“Jadi jangan dia (Cornelis) menjadikan pidato dan pemukulan Tar Kerajaan mengawali  penyuculan meriam sebagai pencitraan. Kita yang ternista akan terus mengawal kasus provokasinya mengusir Ulama masuk Kalbar sebelum puasa yang lalu,”  kata Syarif Hamdan.

 

Berselonjor tak beradat.

Berselonjor tak beradat (perhatikan tanda panah), Cristiandy Sanjaya, dan Ny.Fedrika duduk bersimpuh.   

Lebih dari itu, isteri Wakil Gubernur – Cristiandy Sanjaya, juga dinilai tak beradat, jauh dari etika moral adat istiadat Melayu. Dia yang datang lebih dahulu dalam rombongan gubernur Cornelis, sejak awal duduk tak sopan dengan berselonjor di majelis undangan .  Ini menjadi foto dan video dokumentasi Kerajaan sebagai catatan sejarah. Padahal lainnya duduk bersila atau bersimpuh, termasuk Ny.Fredrika Cornelis duduk bersimpuh sebagaimana mestinya.

 

 

 

Lebih jelas

Lebih jelas

Mestinya, kata Dony Iswara, sebagai isteri pejabat tinggi memahami, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Duduk di bawah (lantai/tikar) bagi wanita adalah bersimpuh atau boleh bersila seperti lelaki. “Bukan berselonjor macam budak kecik maen ampar-ampar pisang,” kata penelusur silsilah Kerajaan  Istana Qadriyah ini. *borneonusantaratime



Komentar anda:

komentar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *