Kawal Kasus Cornelis Usir Ulama


Melvin dokumentasi
[ A+ ] /[ A- ]

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy“Dengan memperhatikan persamaan adat budaya antara lain Naik Dango (Dayak) dan Robo’-Robo’ (Melayu), diharapkan untuk saling menghormati dan tidak dijadikan alat politik.”

HAL tersebut disampaikan oleh Maulana Sri Sultan Syarif Mahmud Alkadri bin Syarif Abubakar Alqadri, Selasa (23 Mei 2017) malam, di balairung Istana Qadriyah, Pontianak. Disampaikan di hadapan beberapa tokoh agama Islam serta dihadiri juga oleh akademisi dan pejabat teras provinsi al.Dir Intel Polda Kalbar mewakili Kapolda, wakil walikota – Eddy Rusdi Kamtono mewakili walikota Pontianak.

Terkait adanya persamaan adat budaya dimaksud yang diselenggarakan dengan cara masing-masing setahun sekali, sama-sama merupakan perwujudan rasa syukur ke khadirat Ilahi atas rahmat hasil bumi atau panen yang berlimpah.

Namun yang menjadi masalah upacara Naik Dango atau Gawe Dayak di Kab.Landak pada April yl. dicemari dengan muatan politik. Dimana Gubernur Cornelis secara terbuka dihadapan massa upacara dan tamu undangan Forkopimda setempat, memproklamirkan dirinya adalah provokator pengusiran ulama yang masuk di provinsi yang berbatasan langsung dengan negeri jiran, Malaysia ini.

Sontak pernyataan Cornelis  baik selaku kepala daerah maupun kepala pemerintahan itu – memantik  amarah umat Islam tak hanya di provinsi ini, tapi juga di seluruh pelosok nusantara. Menuai aksi unjuk rasa Persatuan Orang Melayu (POM) Kalbar di Pontianak, Sabtu (6 Mei 2017), dan aksi besar-besaran dalam Gerakan Bela Ulama, Sabtu (20 Mei 2017) bersamaan dengan Gawe Dayak di Pontianak yang dilanjutkan dengan karnaval. Lalu diusirnya Cornelis dari Tanah Rencong, Aceh, olleh massa Islam dalam kunjungan kerja beberapa hari berikutnya.

Istana Qadriyah Menyikapi Kasus Cornelis

Berkenaan dengan provokasi mulut berbisa sang gubernur dan hasil pertemuan ulama perwakilan ribuan peserta aksi dengan Kapolda Kalbar yang baru – Brigjen Erwin Triwanto, disepakati untuk memeroses hukum pelaku pengusiran ulama (Tengku Zulkarnaen) di Bandara ‘Susilo’ Kab.Sintang, Kamis (12 Januari 2017), dan pengusiran Ustadz Sobri Lubis dan Bachtiar Nasir di Bandara Internasional ‘Supadio’ Kubu Raya, Pontianak, Jumat (5 Mei 2017).

(Lihat video di bawah)

Bertolak dari saling menghormati persamaan adat budaya yang ada, dapat disimpulkan bahwa Sultan Syarif Mahmud Abubakar Alkadri, SH yang akrab disapa dengan nama Melvin atas nama Kerajaan Qadriyah Pontianak, menyatakan dan mengajak:

  1. Mengawal kasus hukum Cornelis sebagai promotor pengusiran ulama termasuk para pelakunya di bandara ‘Susilo’ Sintang dan Bandara ‘Supadio’ Pontianak;
  2. Melarang membawa atau menghunus asesoris senjata tajam Mandau dan sebagainya di tengah publik dalam kegiatan Gawe Dayak, karena sudah jelas melanggar Undang Undang (UU Darurat No.12/1951, Red.) ;
  3. Jangan ada lagi keberpihakan aparat penegak hukum. *borneonusantaratime

(Baca juga Artikel terkait sebelumnya di kategori Peristiwa)

 



Komentar anda:

komentar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *