Habieb Abdurrakhman Ali Almutahar: Apakah Beradab? Menerobos Bandara Bawa Senjata Usir Ulama


Habib Abdurahman Almutahar(2)
[ A+ ] /[ A- ]

Kami tidak pernah mengusir pastor mereka, pendeta mereka, kami tidak pernah mengusir tokoh agama mereka, tapi mereka sudah dua kali mengusir tokoh agama kami, apakah ini yang dibilang kebinekaan?

pita-merah-please-share

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy“Belasan perwakilan massa Aksi Bela Ulama (ABU) 205 yang terdiri dari para ulama dan tokoh agama, diterima oleh Kapolda Kalbar – Brigjen Erwin Triwanto di ruang kerjanya dalam pertemuan tertutup selama lk.1,5 jam, Sabtu (20 Mei 2017) petang.”

USAI pertemuan ba’da Asar, juru bicara massa aksi ABU – Ustadz Habieb Abdurakhman Ali  Almutahar yang dipercaya memimpin pertemuan, kepada awakmedia – ia menyatakan lega.

“Yang jelas kami datang minta keadilan kepada aparat yang diberi amanah di negeri ini,  untuk  menegakan keadilan kepada orang-orang yang membuat Kamtibmas menjadi tidak kondusif.,” katanya.

“Terus terang, tidak ada gubernur di Indonesia ini yang memproklamirkan dirinya sebagai provokator, baru gubernur Kalbar ini,” ujarnya.

Kemudian perlu juga kami tegaskan, papar Habieb Abdurakhman, kami umat Islam ini tidak memusuhi Dayak, karena di dalam Dayak itu banyak juga saudara-saudara kami yang Islam. Di dalam Dayak itu, juga banyak  non Muslim, tapi baik akhlaknya. Bahkan Santri kami di Pesantren, murid-murid kami banyak anak orang Dayak dan kami cinta kepada mereka. Apalagi sama TNI/Polri, kami sayang pada mereka, kami bukan musuh mereka, tapi kami adalah saudara-saudara mereka, karena di dalam TNI/Polri banyak orang Islam dan banyak non Muslim yang yang berakhlak baik.

Di sini kami tegaskan, lanjutnya, kami datang ke sini untuk menegaskan bahwa siapa pun dia, pejabatkah, aparatkah, apa pun latarbelakangnya, kalau mereka coba-coba menodai Pancasila, merusak NKRI, kalau mereka coba-coba menghina simbol-simbol agama kami – diantaranya  Alquran dan Ulama, siapa pun dia, pejabatkah, aparatkah. kami akan tempuh jalur hukum. “Kami tidak mau anarkis, kalau kami mau kami bisa,” ujarnya.

Muslimin/Muslimah yang tergabung dalam massa Aksi Bela Ulama 205 di Pontianak, baik naik sepedamotor maupun berjalan kaki, saat menuju Mapolda Kalbar dari titik kumpul di Mesjid Raya Mujahidin, Pontianak.

Ribuan Muslimin/Muslimah yang tergabung dalam Aksi Bela Ulama 205 di Pontianak, baik naik sepedamotor maupun berjalan kaki, saat menuju Mapolda Kalbar dari titik kumpul di Mesjid Raya Mujahidin, Pontianak.

Kedua, perlu kami tegaskan, kami selama ini umat islam dituduh Radikal, dituduh Anarkis, dituduh anti Pancasila, anti Kebinekaan, anti NKRI, intoleran. Coba kita lihat, nyatanya; apa pernah kami umat Islam menerobos masuk ke Bandara ? Jangankan membawa senjata ke Bandara, menerobos saja tidak pernah, apalagi bawa senjata. Padahal merekalah yang mengaku cinta  Pancasila, tapi mereka sendiri yang menodai Pancasila.

Disebutkan dalam sila ke 2 Pancasila, urai Habieb Abdurakhman, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Apakah dikatakan beradab orang menerobos masuk Bandara bawa senjata, kami tidak pernah melakukan hal seperti itu.

Kemudian selanjutnya, kami selalu dikatakan anti kebinekaan, padahal kami tidak pernah mengusir pastor mereka, pendeta mereka, kami tidak pernah mengusir tokoh agama mereka, tapi mereka sudah dua kali mengusir tokoh agama kami, apakah ini yang dibilang kebinekaan?

“Kami tidak terima kalau Kalbar ini dikatakan tanah kafir sebagaimana yang dia (Cornelis) katakana pada Deklarasi Perdamaian kemarin (Kamis 18 Mei 2017), itu kan membuat kita tambah tidak kondusif. Kita terus terang, Kalbar ini daerah-daerahnya – dulunya  dibangun dan dibesarkan oleh Kerajaan-Kerajaan Islam.  Apalagi terutama Pontianak, pembukanya adalah Sultan Syarif Abdurrakhman Alqadrie , bahkan cucu beliau – Sultan Hamid II merupakan pembuat lambang negara, dan beliau termasuk kakek saya dari sebelah ibu. Jadi jangan khawatir, kami ini sangat cinta NKRI. Jangankan NKRI, rumput saja kami jaga. Tadi kami beritahukan kepada kawan-kawan jangan sampai merusak rumput  (halaman Mapolda), apalagi NKRI, kami ini sangat menyintai NKRI,” ungkap Ustadz Abdurakhman Almutahar

“Perlu kami tegaskan sekali lagi, ingat – kami  minta keadilan, kami tidak mau anarkis, kami masih patuh pada hukum, kami masih hormat pada polisi. Kalau mau ribut bisa, kami orang Islam diajarkan oleh nabi kami kalau urusan pribadi tidak boleh marah, tapi kalau urusan agama, nabi kami mengajarkan untuk memerangi siapa saja. Kalau kami mau memerangi mereka, bisa! Tapi kami masih tetap menghormati polisi, tetap menghormati penegak hukum. Ini saja dari saya,” tutup Habieb Abdurahman Ali Almutahar, Spd.I. *borneonusantaratime

(Baca juga Artikel Terkait sebelumnya di kategori Peristiwa)

 



Komentar anda:

komentar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *