Uji Ledak Bom Ikan itu, Berdaya Ledak Tinggi


Kapolda Irjen Musyafak (atas), dan Dirpolair Kombes Alex Fauzi RasadKapolda Irjen Musyafak (atas), dan Dirpolair Kombes Alex Fauzi Rasad
[ A+ ] /[ A- ]

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy - Copy“Dari penyelidikan awal yang dilakukan, detonator Bom Ikan tersebut, diduga berasal dari luar negeri, yakni  India – yang dimasukan melalui perbatasan Malaysia.”

DIREKTUR Polisi Air (Dirpolair) Polda Kalbar – Kombes H Alex Fauzi Razad menyatakan, masih melakukan penyidikan serta penyelidikan mendalam terhadap tindak pidana penangkapan ikan menggunakan bom. Pelaku diduga kerap beroperasi di sekitar perairan Kab.Sambas – Kalbar dan Natuna. “Untuk bagaimana proses detonator itu bisa ada diatas kapal, otomatis kan sudah ada waktu didarat. Nah ini sudah kita lakukan pengembangan,” kata Kombes H. Alex Fauzi Razad, Rabu (19 April 2017).

“Menurut informasi dari Kasat Brimob, berdasarkan jenisnya, detonator itu dari luar,” paparnya. Pihaknya juga akan terus menyelidiki kemungkinan aktor utama atau adanya pemodal dibalik kegiatan para tersangka tersebut. (Artikel terkait > 19 April 2017 > Hukrim: Awak Kapal Nelayan “Usaha” asal Sulawesi Tenggara Ditangkap di Perairan Kalbar)

Alex Fauzi juga menjelaskan, pengungkapan aktifitas ilegal fishing dengan alat peledak iitu merupakan kali pertama  diungkap pada 2017 ini. “Memang kita pernah dengar, tapi kita tidak mau hanya dengan katanya, ada penangkapan ikan dengan bom. Namun baru kali inilah kita temukan mulai dari peralatannya, bomnya dan pelakunya berhasil ditangkap,” ungkapnya.

Para tersangka dikenakan pasal 1 UU darurat nomor 12 tahun 1951, tentang senjata api, dan bahan peledak atau pasal 85 UU nomor 45 tahun 2009 atas perubahan Undang-Undang nomor 31 tahun 2004 tentang perikanan. “Dengan ancaman penjara paling lama lima tahun, dan denda paling banyak Rp 2 miliar,” tutupnya.

Sebelum memberi keterangan pers tersebut, siang itu Direktorat Polisi Air Polda Kalbar   melakukan uji ledak  Bom Ikan hasil tangkapan dari nelayan KM ‘Usaha Baru’,  di perairan Sebangkau Kabupaten Sambas 15 April 2017.

Dalam uji ledak yang dilakukan oleh tim Gegana Brimob Polda Kalbar, juga dihadiri oleh Kapolda Kalbar – Irjen Musyafak.

Tadi, kata Musyafak, sudah kita coba denga 0,4 gram, suaranya sudah seperti itu, “Kalau satu kilogram suaranya seperti apalagi?” ujarnya. Jika ditambah dengan jerigen dan botol, jadi sekali meledak bisa mendapatkan 300 kilogram ikan.

Selain itu, Kapolda mengatakan, pengungkapan terhadap pelaku penggunaan bahan peledak bom ikan tersebut sangat sulit karena posisi yang berada di tengah laut.

“Mengungkapnya sangat sulit, memerlukan waktu empat hari dan terungkapnya pada tengah malam,” paparnya.

Musyafak memgatakan, untuk saat ini, para pelaku tersebut masih dalam penyelidikan dan pengembangan, dan ia mengatakan bahan peledak tersebut diketahui berasal India.

“Ini berasal dari India dan masuknya lewat mana, nantinya akan terungkap melalui tersangka lain, dan semoga bisa mendapatkan yang lebih besar lagi,” harapnya.

Musyafak menegaskan, bahwa ke-enam nelayan beserta seorang pemilik bahan peledak yang telah diamankan, serta barang bukti 15 karung sejumlah 375 kilogram Ammonium Nitrat Fuel Oil (AMFO). Keenamnya akan dikenakan pelanggaran pasal 1 Undang-undang darurat No 12 tahun 1951 dengan ancaman hukumnya seumur hidup, hukuman mati dan paling rendah 20 tahun.

Kapolda Irjen Musyafak  mengingatkan  kepada para nelayan supaya tidak menggunakan bahan peledak dengan menggunakan detonator, karena akan berisiko hukum. *borneonusantaratime

*editor: eaz



Komentar anda:

komentar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *