Dua Ekor Klampiau Dievakuasi untuk Dilepasliarkan Kembali ke Habitatnya


Saat evakuasi klampiau dari pemiliknya di Ketapang, Kalbar.Saat evakuasi klampiau dari pemiliknya di Ketapang, Kalbar.
[ A+ ] /[ A- ]

logo-bnt-baru-2016-copy-copy“Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat,  mengevakuasi dua ekor klampiau yang sempat dipelihara oleh warga dalam waktu berbeda.”

TIM GUGUS Tugas Evakuasi dan Penyelamat TSL – Seksi Konservasi Wilayah I Ketapang bersama anggota Manggala Agni Daerah Ketapang, mengevaluasi sekor klampiau betina umur dua tahun yang diberi nama Etus oleh pemeliharaannya.

Evakuasi dilakukan pada hari Kamis (6 Oktober 2016), kata Kepala BKSDA Kalbar – Sustyo  Iriono di Pontianak, Jumat (21 Oktober 2016). Ia menjelaskan, klampiau tersebut diserahkan oleh pihak Polsek Simpang Hulu – yang berasal dari penyerahan masyarakat Simpang Hulu ke Polsek Simpang Hulu.

Kemudian, Rabu (19 Oktober),  Abdul Murni – warga  Kabupaten Ketapang, juga menyerahkan seekor klampiau betina dalam keadaan sehat yang diperkirakan berusia delapan tahun dan diberi nama Selbi oleh pemeliharanya.

“Menurut pengakuan Abdul Murni klampiau tersebut diperolehnya dari seorang warga dan sempat dipeliharanya selama tiga hari, baru diserahkan ke pihak kami,” ungkap Sustyo.

Untuk sementara, kedua klampiau dirawat di Mako Manggala Agni Daerah Operasi Ketapang. Rencana selanjutnya akan dititiprawatkan di salah satu lembaga konservasi, guna proses rehabilitasi hingga dapat dilepasliarkan kembali ke habitatnya.

Sustyo menambahkan, satwa jenis klampiau selama ini memang termasuk satwa favorit peliharaan, selain satwa kukang. Evakuasi kali ini sepanjang 2016, menurut Sustyo, merupakan yang kedelapan dalam hal penertiban dan penyerahan secara sukarela oleh masyarakat yang memelihara satwa liar yang dilindungi.

Hal tersebut. mengindikasikan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kelestarian satwa di habitat alamnya, serta pertimbangan animal welfare.

“Dan sekaligus mencerminkan hasil dari upaya kegiatan konservasi, baik secara preventif – persuasif (patroli, sosialisasi, dan penyuluhan) maupun represif (penegakan hukum) yang selama ini terus dilakukan,” kata Sustyo.

Tercatat ada beberapa jenis satwa lain yang dilindungi yang juga diserahkan secara sukarela.*borneonusantaratime

*editor: effazola



Komentar anda:

komentar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *