Dokter Gadungan Ngaku Anggota TNI/AD Berpangkat Mayjen dan Kantongi Lambang Gafatar


[ A+ ] /[ A- ]

logo-bnt-baru-2016-copy-copy“Baru sehari sebelumnya pihak Kodim 1207 menangkap seorang anggota TNI gadungan dengan aksi teri, giliran Kodam XII Tanjungpura menggaruk dokter gadungan berpangkat bintang dua dari Mabes TNI/AD dengan sederet gelar kedokteran.”

MENGAKU dirinya DR.dr. Zunaidi, Sp.Srf., SpJtg., Sp.Rhm., Sp.Tlg., warga Sungai Rengas Kecamatan Sungai Kakap, Kab.Kubu Raya ini,  bahkan mengaku dari Mabes TNI AD dan berpangkat Bintang Dua. Padahal pria beranak dua ini cuma tamatan SMP,  ditangkap di Puskesmas Sungai Rengas, Kecamatan Sungai Kakap, Jumat (21 Oktober 2016).

Pengakuan sebagai Jenderal Bintang Dua, untuk memuluskan akal bulus pelaku dalam menggaet calon korbannya yang ingin memasukkan anak maupun keluarganya sebagai Anggota TNI AD.

Menurut pengakuan pelaku, pasien yang berobat dengannya dari berbagai kalangan. Mulai dari anggota TNI, Polri, PNS, hingga masyarakat biasa. Dalam sekali pengobatan, biayanya bervariasi. Untuk penyakit dan mengambil obat, pasien diharuskan membayar Rp.150 ribu.

“Paling tinggi, pasien dibebankan biaya tiga juta rupiah,  tergantung penyakit,” ceritanya di Markas Denintel Kodam XII/Tanjungpura.

Ia juga mengungkapkan,  bahwa  awalnya hanya melakoni pengobatan tradisional yang ia dapatkan dari keluarganya. Namun karena pendapatannya tidak seberapa, ia pun beralih profesi menjadi seorang dokter dan mengaku dari Mabes TNI AD.

“Banyak pasien yang datang ke rumah dan ada juga pasien yang menghubungi. Pasien saya selain dari Kota Pontianak dan Kubu Raya, juga dari kabupaten lain seperti Bengkayang dan Sintang,” paparnya.

Untuk mendapatkan obat-obatan di Apotik, Zunaidi mengaku menggunakan resep bekas.  Resep tersebut diperbaharui dengan menggunakan foto kopi yang kemudian diberikan pada pasien.

Postur tubuh dokter gadungan itu memang cukup meyakinkan, setiap melayani pasien nya, pelaku ini menggunakan celana dinas TNI AD serta atribut kedokteran. Ia juga mengakui, selama beroperasi sebagai dokter gadungan dalam satu bulan mendapat bayaran bervariasi.  Setiap pasien sudah dipatok dengan harga mulai dari Rp.50 ribu sampai Rp.100 ribu sekali terapi.

Jika lagi sepi, katanya, dalam satu bulan biasa dapat lima juta, kalau ramai pasien dan kontinyu bisa dapat 10 sampai 15 juta rupiah perbulan.

Uang hasil pengobatan, kata Zunaidi, dipergunakan untuk keperluan hidup sehari-hari. Sebab, istrinya hanya berdagang kecil-kecilan. Dalam setiap pengobatan, ada yang berhasil dan ada yang tidak. Kebanyakan pasien komplain, karena terapinya terlalu lama dan tidak kunjung sembuh.

Salah Satu korban, Ade M. Yusuf menjelaskan,   mengenal Zunaidi melalui salah satu kenalannya yang terlebih dahulu sudah berobat kurang lebih tiga tahun, namun tidak membuahkan hasil.

“Sama sekali tidak ada perubahan, namun masih saja Zunaidi datang ke rumah lengkap dengan atribut kedokteran dan mengaku sebagai dokter spesialis semua penyakit,” kata Ade.

Lanjut Ade, selama pengobatan yang dilakukan terhadap istrinya, bukannya sembuh malahan sang istri mengaku kalau dokter gadungan itu suaminya – sehingga  hubungan rumah tangga mereka berdua berakhir.

“Logika saya berjalan, tidak percaya dengan dokter Zunaidi. Saya berusaha mencari tahu dokter palsu itu sampai ke Mabes TNI AD.  Namun nama yang bersangkutan tidak ada di Mabes,” terang dia. Selama pengobatan berjalan satu tahun, Ade mengaku telah habis uang hingga Rp.15 juta.

Terkait penangkapan terhadap DR.Dr. Zunaidi, Sp.Srf.SpJtg.Sp.Rhm.Sp.Tlg, – Mayor  Inf. Catur Prasetyo Nugroho – Wadan Dentinteldam XII/Tpr menjelaskan, bahwa pihaknya menerima laporan dari masyarakat yang menjadi korbannya,  bahwa ada dokter dari Mabes TNI AD berpangkat Mayjen.

“Informasi yang kami dapat dalam penyelidikan, bahwa yang bersangkutan hanyalah lulusan SMP. Tetapi mengaku sebagai seorang dokter yang berpangkat Mayor Jenderal dari Mabes TNI AD,” terang Catur Prasetyo.  Untuk pembuktian lebih lanjut, pihaknya langsung berkomunikasi dengan Dinas Kesehatan Kab.Kubu Raya serta pihak Puskesmas Sungai Rengas Kecamatan Sungai Kakap.

Pelaku kemudian ditangkap saat berada di Puskesmas, dengan segala barang yang ia jadikan sebagai bahan pengobatan. Pelaku juga meracik bahan obat-obatan baik dari obat dokter maupun herbal yang tentunya tidak bisa dipertanggungjawabkan dan dijual dengan tarif di atas dua juta.

“Kepada masyarakat, apabila ada oknum atau siapa pun yang mengaku sebagai anggota TNI, silakan melapor pada detasemen Intelijen Kodam XII/Tpr maupun ke struktur TNI lainnya yang ada di sekitar keberadaan pelaku maka akan kita tindak lanjuti,” imbau Mayor Catur Prasetyo.

Terkait lambang Gafatar yang disimpan oleh Zunaidi, Catur Prasetyo Nugroho Wadan Dentinteldam XII/Tpr menegaskan, akan didalami lebih lanjut. “Kita temukan lambang dan dokumen Gafatar yang dilarang oleh Negara, dan hal ini akan kami dalami lebih lanjut. Untuk dokter gadungan ini, akan kami serahkan ke pihak Kepolisian guna dilakukan penyidikan terkait pemalsuan dokumen,” pungkasnya*borneonusantaratime

*editor: effazola

(Visited 14 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.