Asal Mula Beca di Pontianak Didrop oleh van Dorp


becak-di-pontianak-yang-tersisa
[ A+ ] /[ A- ]

logo-bnt-baru-2016-copy-copy“Ini sebuah kisah yang dibuang sayang, tentang asal mula keberadaan beca  di kota Pontianak, sementara alat transportasi rakyat ini makin terpinggirkan di banyak provinsi.”

KISAH yang terekam menjadi dokumentasi pribadi, padahal alangkah indahnya jika dijadikan khazanah sejarah seperti yang dituturkan Kamarudin, seorang tukang beca tertua di kota ini.

Ketika Pak Udin – demikian panggilan akrab Kamarudin sekitar45 tahun silam, usianya sudah menyapai 60 tahun. Penarik becak tertua di kota ini kala itu, kini tentunya telah tiada, tapi inilah kisahnya yang setia menemani penulis memburu berita ke sana-sini tempo doeloe.

Untuk kelangsungan kariernya sebagai penarik beca, Pak Udin yang punya dua isteri, terpaksa melakukan ‘penipuan’. Di rebewijs (Surat Izin Mengemudi), tertulis usianya 40 tahun. Kalau berterus terang menyebut usia 60 tahun, bisa saja Pak Udin tidak lagi berhak mendapat sebutan tukang beca. Sebab menyebutkan umur lebih dari 45 tahun, tidak boleh lagi menarik beca.

Waktu itu, peraturan dan disiplin berlalu-lintas sangat tegas, tidak seperti sekarang – SIM beca sudah antah berantah seiring terpinggirkannya alat transportasi beroda tiga itu.

Van Dorp

Setua umur pekerjaan Pak Udin ditambah setua umur kisahnya yang lekat terekam dalam ingatan, setua itu pulalah usia perbecakan di ibukota Provinsi Kalimantan Barat ini.

Seperti dikisahkan oleh Pak Udin kala itu, alkisah pada tahun 1940 seorang Indo Belanda mendatangkan beca ke daerah ini. Namanya Van Dorp, jabatan Kepala Mandat, yaitu Kepala Kesatuan Polisi yang bertugas menjaga pasar di malam hari.

Bentuk beca yang didrop oleh Van Dorp, tak jauh berbeda dengan beca yang sekarang masih ada di pinggiran Kota Pontianak. Hanya agak lebih sederhana, tempat duduk untuk penumpang berbentuk kotak segi empat, bannya pun berupa ‘ban mati’, tidak dipompa.

Pada mulanya beca yang diboyong Van Dorp dari Batavia (Jakarta), hanya berjumlah 6 unit. Sedangkan penariknya ada 12 orang yang diatur bergiliran, 6 orang pagi hingga tengah hari, dan 6 lainnya nyambung hingga malam hari.

Untuk jalan malam, beca dilengkapi dengan penerangan lampu lentera minyak tanah. Bentuk lentera segi empat panjang, “tingi kira-kira satu kilan, lebar kira-kira empat jari,” kata Pak Udin. Tidak seperti sekarang, becak malam bebas melintas dikendarai tanpa lampu.

Membandingkan soal rezeki tempo doeloe, Pak Udin merasa lebih enak tempo doeloe. Dulu, katanya, sewa untuk satu giliran becak setengah hari cuma dua ketip alias dupuluh sen. “Sewa dibayar kepada Babah Fong, touke yang mengurus beca di Gang Mas Rono, sekarang Jalan Johar,” kenang Pak Udin.

Untuk setengah hari sewa beca, pukul rata rezeki Rp.1,- sudah lumayan. “Dulu, pisang goreng tambah kopi segelas, cuma lima sen. Beras rata-rata bagus, cuma sepuluh sen sekilo,” ujarnya.

Itu hanyalah sepenggal kisah panjang lebar Pak Udin. Lalu ketika ditanya mengapa sampai punya isteri dua, sedangkan dia cuma seorang penarik beca. Menurutnya, karena dia kepingin punya anak, namun setelah beristeri dua, tak juga dapat anak. “Begitulah takdir,” ujarnya lirih.

“Jangan nak dicobelah bebini duak. Bebini lebeh dari satu, yang pasti kite jadi pembohong,” ungkap Pak Udin terkekeh dalam Bahasa Melayu yang kental.

Selamat Ulang Tahun ke 245 Kota Pontianak, 23 Okt 2016. Semoga amal ibadah almarhum Pak Udin dengan pencarian rezekinya yang halal, diterima oleh Allah SWT. Amiin. *borneonusantaratime



Komentar anda:

komentar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *