Malioboro Masih Seperti yang Doeloe


Malam di Malioboro.
[ A+ ] /[ A- ]

 

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy - Copy“Yogyakarta dengan ciri khasnya sebagai kota wisata selain disebut juga sebagai kota pelajar, merupakan sebuah kota yang tak mudah untuk dilupakan.”

DENGAN beberapa kawasan wisata alam yang menawan, peninggalan sejarah yang memukau, kuliner gudegnya yang terkenal itu dsb., atau transport delman dan becaknya yang murah meriah dan lain sebagainya, merupakan “surat undangan” yang membuat orang merasa tak cukup untuk sekali saja berkunjung. Apalagi bagi mereka yang pernah punya memori “sepanjang jalan kenangan” di Malioboro.

 Namun semua itu tak akan berarti jika tidak didukung oleh sarana paling utama untuk betah berada di sini, yaitu hotel. Hotel dimana pun tak hanya untuk keperluan wisatawan, tapi juga para pebisnis yang dapat memberikan investasi di wilayah ybs.

DI Yogyakarta sendiri, kata manajer sebuah hotel kepada borneonusantaratime, hingga saat ini didukung oleh lebih dari 30 hotel berbintang dan ratusan hotel kelas melati, tersebar di sepanjang DI Yogyakarta dan sekitarnya.

Pengamen Malioboro yang selalu menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara.

Pengamen Malioboro yang selalu menarik perhatian wisatawan domestik dan mancanegara.

Itu pun dirasa kurang cukup, misalnya  pada Oktober/November saja, semua penginapan berbagai kelas sudah penuh dipesan (booking) untuk menyambut tahun baru.

Bisnis perhotelan di Kota Gudeg ini, tak hanya dikelola oleh pengusaha setempat, tapi banyak juga yang dibangun oleh investor dari luar pulau Jawa. Yang jelas, DI Yogyakarta masih seperti tempo doeloe, menarik dengan jalan Malioboronya yang penuh kenangan dan tak ada duanya. *borneonusantaratime

(Visited 8 times, 1 visits today)

Leave a Reply

Your email address will not be published.