Pendistribusian Air Bersih yang Tak Kunjung Bersih


Hasil proses pengendapan air PDAM kota Pontianak 3hari 3malam di rumah.Hasil proses pengendapan air PDAM kota Pontianak 3hari 3malam di rumah.
[ A+ ] /[ A- ]

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy“Tak cuma menyoal lisrik yang sering ‘byar-preet’, masyarakat Kalbar – khususnya warga kota Pontianak, juga mengeluhkan pendistribusian air bersih yang tak kunjung bersih.”

PERESMIAN  PAM (Perusahaan Air Minum) kota Pontianak oleh Presiden RI pertama – Bung Karno pada 1962, menaruh harapan besar bagi warga kota ini untuk tak lagi mengkonsumsi air hujan.

Namun dalam perjalanan waktu, solusi air bersih yang diekploitasi pengerjaannya kerjasama dengan Prancis kala itu, tidaklah menyenangkan sampai saat ini.  Dari mana pun sumber bakunya untuk diolah menjadi air bersih, tetap saja terkontaminasi intrusi air laut ke Sungai Kapuas – yang merupakan sumber baku air leding dan menjadi payau dikala kadar garam naik – terutama di musim kemarau.

Pada tahun 1975, sebidang tanah luas milik warga dibebaskan dengan harga pemerintah – yang  katanya untuk dijadikan waduk sumber air baku sebagai solusi.

Namun entah karena tanpa survey  penelitian lebih dahulu atau karena ‘oh karena’, lahan yang sudah diuruk, dinyatakan tidak bisa dipakai, karena menurut pihak PAM (Perusahaan Air Minum, ketika itu belum menjadi PDAM))  diakui tingkat keasaman airnynya tidak layak diolah untuk konsumsi. Sementara lahan yang tadinya dikabarkan untuk pembangunan waduk air baku, hingga kini dikenal dengan nama Komplek Waduk perumahan warga, dan berdiri sebuah hotel.

Tak juga mengatasi masalah yang katanya sumber  air baku sudah pula berasal dari Sungai Landak desa Penempat, Kecamatan Sungai Ambawang, di luar kota Pontianak. Air dari PDAM tetap saja menjadi keluhan, sering ngadat, sering mengucurkan air yang keruh, kalaupun jernih tak luput dari bau ramuan bahan baku air berupa bau kaporit dan tawas. Belum lagi terkontaminasi mercury akibat pengolahan kayu dari prusahaan sawmill di hulu sungai.

Beberapa pihak kalangan akademisi berdasarkan hasil penelitian, sudah beberapa kali pula menyatakan, bahwa air olahan PDAM Pontianak tak layak atau tak sehat untuk dikonsumsi karena antara lain mengandung mercury berkadar tinggi.

Hal itu tentu tak masalah bagi kalangan golongan the have dan para pejabat, di rumah mereka tersedia pula alat penyaring air berharga belasan juta rupiah untuk menetralisir air PDAM – sehingga bisa langsung diminum. Sedangkan masyarakat awam tetap saja mengurut dada, air produk PDAM pagi ditampung – sore masih keruh dan beraroma kaporit/tawas untuk disaring lagi dari endapan air tanah sekadar untuk MCK.

Untuk mengucurkannya pun harus keluar dana ekstra, karena harus pakai alat bantu dengan membeli mesin pompa air.

Pada  foto yang mengilustrasi artikel ini, terlihat 4 pase proses pengendapan air bersih          dari PDAM kota Pontianak sejak mulai ditampung dari kran ke dalam kaleng bekas cat 5 kg. :

  1. Air yang baru ditampung dari kran
  2. Air dalam proses pengendapkan seharian
  3. Hanya bisa sebatas inilah kebeningan atau kebersihan air dari PDAM Pontianak setelah dua hari diendapkan
  4. Inilah endapan air tanah dari air bersih olahan PDAM Pontianak dengan imbas aroma kaporit dan tawas.

Entah sampai kapan kondisi perusahaan pengolahan air bersih yang tak kunjung bersih dari PDAM kota Pontianak, setelah sejak diresmikan Bung Karno 54 tahun silam tersebut.  *borneonusantaratime.



Komentar anda:

komentar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *