Keren, Masukkan Sampah Bisa Jadi Duit


Dirjen Perhutsos dan Kemitraan KLK - Hadi Daryanto,  mencoba alat ini ketika dipamerkan di bundaran HI Jakarta.(mongabay)Dirjen Perhutsos dan Kemitraan KLK - Hadi Daryanto, mencoba alat ini ketika dipamerkan di bundaran HI Jakarta.(mongabay)
[ A+ ] /[ A- ]

 

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy“Mesin ramah lingkungan ini gunanya menampung botol-botol plastik maupun kaleng minuman dengan target anak-anak kecil hingga remaja, tetapi bisa buat semua.”

MESIN ini namanya Ecojos Junior atau Tomra, dengan target anak-anak kecil hingga remaja, dan bisa buat semua.

Sepintas bak mesin ATM, dominasi warna hijau dan abu-abu membuat benda ini mencolok kala ada di sekitar bundaran Hotel Indonesia – pada  Car Free Day, beberapa pekan lalu.

Alat ini secara model serupa bank sampah, dengan versi lebih inovatif. Caranya, sampah botol atau kaleng plastik maupun aluminium dimasukkan dalam lubang mesin. Mesin akan mendeteksi jenis barang dan langsung mem-press yang masih utuh.

Akan ada voucher sesuai jumlah botol atau kaleng yang kita masukkan. Nilai apresiasinya, kaleng minuman ringan Rp150/botol besar Rp80/botol kecil, dan botol sedang-kecil Rp50. Nilai ini menjadi tabungan yang dapat diambil per Rp5.000. Keren kan?

Barang bekas yang masuk akan didaur ulang. Mesin daur ulang otomatis mengenal jenis sampah yang dimasukkan. ”Baru bisa kaleng minuman ringan, botol plastik besar, sedang hingga kecil,” kata Koordinator Ecojos, Putri Daninggar.

Ke depan, mesin dari Norwegia ini akan menyortir mandiri. Adapun instruksi pemakaian ada di layar hingga alat ini mudah digunakan (user-friendly).

”Ini langkah mendorong anak kecil peduli sampah sekitar,” ucap Putri. Sistem layaknya bank sampah di berbagai daerah tetapi lebih bersifat modern dan memiliki daya tarik bagi masyarakat.

Dia mengatakan, sudah ada di Bali, ditempatkan di beberapa titik strategis Kelurahan Bali. Banyak anak setiap Sabtu dan Minggu membawa sampah sepulang rekreasi ataupun selama seminggu di sekolah.

Bersama Dinas Kebersihan dan Pertamanan Denpasar, pihaknya meletakkan sembilan mesin. Selain peduli lingkungan, katanya, melalui program ini dapat meningkatkan minat anak menabung.

”Biasa mereka kumpulkan untuk membeli tas atau sepatu pada saat hari kenaikan kelas,” kata Putri. Setiap mesin bisa menerima sampah 500 botol plastik dan 350 kaleng per hari.

Aliran dana itu ditampung seperti lembaga perkreditan desa ataupun koperasi. Nanti, ada petugas menjaga loket. Waktu operasi hari sekolah pukul 07.00-15.00, akhir pekan 09.00-05.00. Harga alat ini Rp200-250 juta.

Sampah-sampah ini, katanya, akan dibawa ke pabrik pengolahan. ”Khusus plastik , pertama didesinfectan, dicacah, lalu dikirim ke Korea dan China buat kaos,” tuturnya.

Plastik dikirim di luar negeri, katanya, karena teknologi di Indonesia sangat minim untuk daur ulang menjadi kaos. Sedangkan, kaleng daur ulang di dalam negeri. Pada 2016, mesin ber-tagline trash for cash ini, akan ditambah menjadi 25 unit. *borneonusantaratime / mongabay.



Komentar anda:

komentar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *