Sungai Jawi Bakal Sumber Baku Air PDAM Perlu Penelitian Lanjutan


Sungai-Jawi-13-Insert-Teks
[ A+ ] /[ A- ]

Logo-BNT-Baru-2016 - Copy“Perusahaan Air Minum dari Belanda – Oasen dikabarkan telah menyampaikan hasil penelitian awal, bahwa Sungai Jawai layak sebagai sumber baku air PDAM.”

MENERIMA hasil penelitian tsb. walikota – Sutarmidji pun yakin, bahwa Sungai Jawi layak menjadi sumber air baku PDAM kota Pontianak sebagai alternatif di kala air Sungai Kapuas terindusi air laut.

Menurut Sutarmidji, pihak Oasen sudah melakukan penelitian terhadap Sungai Jawi sepanjang 6 kilometer, terkait kelayakan sungai itu sebagai sumber air baku PDAM saat musim kemarau. Namun sebelumnya menurut Director Customers and Overseas Oasen – Jeroen Schmaal, penelitian sudah sampai Sungai Kakap yang artinya sekitar 20 km.

Menurut Jeroen Schmaal, penelitian dilakukan selama 4 bulan oleh dua orang ahli dari Wageningen University, Sverre dan Michael.

“Hasilnya, Sungai Jawi dapat digunakan sebagai sumber air baku, tetapi memerlukan upaya yang besar untuk mewujudkan itu. Langkah yang harus dilakukan adalah penggalian dan menempatkan bendungan di sungai, sangat memungkinkan untuk melakukan ini,” jelasnya.

Menurut Jeroen dalam pertemuan dengan Walikota Sutarmidji, Jumat (26 Februari 2016), dilansir laman resmi Pemkot Pontianak,    untuk menjadikan Sungai Jawi sebagai sumber air baku PDAM, membutuhkan waktu yang diperkirakan   setidaknya dua hingga tiga tahun, termasuk penelitian kualitatif, kuantitatif, penggalian, tender dan lain sebagainya.

Sebenarnya proses pembangunan dua atau tiga tahun, kata Jasoen,  bukan waktu yang lama. Mengingat pihaknya sudah menghabiskan 10 tahun untuk melakukan pembicaraan dengan pemerintah Kota Pontianak tentang pengelolaan air bersih. “Kita sudah menggodok pembangunan waduk ini selama kurang lebih enam tahun,” sela Jeroen.

Kendati pihaknya sudah melakukan penelitian pendahuluan, namun ia menyatakan masih perlu melakukan penelitian lanjutan yang memadai.

Penelitiannya kami lakukan di Sungai Jawi yang ada di Pontianak sampai ke Sungai Kakap,” jelas Jasoen.

Dari penelitian berbagai aspek yang dilakukan Oasen, hasilnya Sungai Jawi bisa menjadi sumber air baku dengan kemampuan produksi sebanyak 60 hingga 100 liter per detik. Jumlah ini dianggap mampu untuk menyuplai kebutuhan air bersih bagi masyarakat untuk beberapa hari.

“Saya yakin Sungai Jawi layak sebagai alternatif air baku PDAM disaat kemarau,” ujar Sutarmidji, usai pertemuan dengan pihak Oasen tsb. di ruang kerja walikota seperti dikutip laman resmi Pemkot Pontianak tersebut.

Sutarmidji menjelaskan, penelitian yang dilakukan merupakan penelitian awal, dan pihak Oasen akan membantu Pemkot untuk melakukan penelitian lanjutan.

Menurut Sutarmidji, penelitian dilakukan baru sepanjang 6 kilometer, sedangkan Sungai Jawi hingga ke Sungai Kakap sekitar 20 kilometer.

Sungai-Jawi-Insert (4)-Teks

Apabila Sungai Jawi sepanjang 20 kilometer dilakukan normalisasi, kata Sutarmidji, dibuat pintu air sejumlah empat titik dan limbah yang berasal dari rumah tangga ke Sungai Jawi dikurangi, maka dirinya yakin PDAM sangat layak untuk mengolah air Sungai Jawi sebagai air baku pada musim kemarau.

Walikota Pontianak dua priode itu mengatakan, akan menyampaikan hal tsb. ke Kementerian PU. Dia berharap  Gubernur Kalbar (Cornelis), bisa mengusulkan sebuah waduk air dari sejumlah waduk yang diprogramkan pemerintah pusat.

Dari beberapa kali penelitian, menurut walikota, wilayah yang layak dibangun waduk adalah di Punggur (Kabupaten Kubu Raya, Red.) yang struktur tanahnya adalah tanah liat, bukan gambut.

“Airnya masih terjaga kebersihannya dan dilindungi pohon-pohon, sehingga air masih jernih,” katanya yakin.

“Ada suatu sungai di Punggur, saya pernah telusuri sungai itu aksesnya ke Sungai Jawi dan airnya bagus, nanti akan kita kaji,” tambahnya.

Ia berpendapat, semestinya ruang terbuka hijau dibangun waduk terutama di lokasi batas kota. Apalagi  jarak Kabupaten Kubu Raya hanya 4 kilometer dari Kota Pontianak.

Saat ini, sumber air baku PDAM Kota Pontianak masih mengandalkan air dari Sungai Penepat – Kubu Raya yang jaraknya sekitar 25 kilometer dari Pontianak. *borneonusantaratime > re-edit

*Artikel terkait > Lingkungan : “Bagaimana dengan Limbah RSU St. Antonius?”



Komentar anda:

komentar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *