Siapakah Dia? Pak Sartono yang Tak Dikenang di HUT PGRI


sartono
[ A+ ] /[ A- ]

Logo-Borneo-Nusantara-Time-HD-(1)- - PNG-Like“Di seluruh kabupaten/kota provinsi, HUT PGRI kali ini diperingati dengan mengangkat tema Guru Mulia karena Karya.”

PUNCAK acara HARI Ulang Tahun (HUT) ke-70 PGRI, 24 November 2015 pagi,   di Istora Senayan – Jakarta, dihadiri oleh Presiden Jokowi (Joko Widodo) bersama antaralain Mendikbud – Anies  Baswedan, tanpa didampingi ibu negara Iriana Jokowi.

Semua orang patut dan layak merayakan HUT PGRI, di mana di dalamnya berhimpun para guru yang telah memberikan pendidikan tanpa minta balas jasa dari anak didiknya, sehingga  para guru menyandang gelar Pahlawan Tanpa Tanda Jasa. Tak heran jika Jokowi menyempatkan diri menyium tangan seorang ibu guru yang pernah mendidiknya.

“Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen mengamanatkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”

Namun di balik acara memperingati hari jadi Persatuan Guru Republik Indonesia yang sudah berusia 70 tahun itu, ada satu peristiwa yang tak semestinya dilupakan, yaitu tentang pemilik sebuah nama yang telah tiada, setidaknya  dengan sesaat mengheningkan cipta.

Pemilik nama itu adalah Sartono, seorang guru SMP di Madiun. Tapi apa istimewanya Sartono dibandingkan rekan sejawatnya setanah air?

Empat orang guru (SMP dan SMA) dan beberapa mahasiswa/mahasiswi FKIP di Pontianak yang disambangi borneonusantaratime, mengaku tak kenal atau tak tahu siapa sosok Pak Sartono.  Sungguh miris mendengarnya, padahal Pak Guru Sartono adalah  penyipta lagu Hymne Guru yang menyentuh dan menggugah perasaan yang selalu dinyanyikan bersama pada tiap even kegiatan terkait pendidikan.

Namun Sartono kini telah tiada. Hanya tiga minggu sebelum HUT ke-70 PGRI, Pak Guru yang hidup bersahaja itu mengembuskan nafas terakhirnya, Minggu (1 November 2015) sekira jam 12.40 WIB di RSUD Madiun, Jawa Timur  setelah dirawat sejak 10 hari sebelumnya.

Ia pergi untuk selamanya dalam usia 79 tahun setelah sekitar dua minggu bergelut melawan komplikasi gejala stroke, kencing manis, jantung, dan penyumbatan pembuluh darah di otak.  Kepergian selamanya mengundang banyak rasa duka dan simpati di jejaring sosial ketika itu, jadi aneh jika masih banyak kalangan guru yang tidak mengenal sosok Sartono.

“Sartono, sosok yg mengangkat citra para pendidik,” tulis Ketua PGRI Jatim – Ichwan  Sumadi, di akun twitternya.

Mendikbud Anies Baswedan ketika itu saat menyampaikan dukacitanya di Jakarta mengatakan, hymne guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang diciptakan almarhum Sartono, menginspirasi banyak orang untuk memuliakan guru.

Sehari sebelumnya Mendikbud sempat mengutus Inspektur Jenderal (Irjen) Kemendikbud – Daryanto guna membesuk dan membantu keluarga almarhum di RSUD Madiun.

Hebatnya, Sartono menyiptakan hymne guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa dengan cara yang unik – tidak  pernah dilakukan oleh siapa pun penyipta atau penggubah lagu. Bagaimana caranya?  Lihat Artikel terkait berikutnya masih di kategori Pendididikan: “Bagaimana Cara Unik Hymne Guru Diciptakan Pak Sartono?”. *borneonusantaratime



Komentar anda:

komentar




Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *