Warga Pontianak 80% Taat Peraturan, Dua Tahun ke Depan Bebas Rumah Kumuh


Walikota Pontianak - Sutarmidji saat memberikan pemaparannya di Yogyakarta, 21/8-2014. (Foto: Humas)Walikota Pontianak - Sutarmidji saat memberikan pemaparannya di Yogyakarta, 21/8-2014. (Foto: Humas)
[ A+ ] /[ A- ]

“Penegakkan hukum perlu diterapkan secara tegas supaya masyarakat bisa tertib dan mematuhi aturan. Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak sangat konsisten dalam menegakkan aturan.“

HAL tersebut dikemukakan oleh Walikota Pontianak – Sutarmidji, ketika mendapat kehormatan menjadi salah satu narasumber pada kegiatan Penyegaran Duta Sanitasi 2010-2013 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) di Yogyakarta, Kamis – 21 Agustus 2014.

Penegakkan aturan, ungkap Sutarmidji,  juga diterapkan dalam mematuhi ketentuan jadwal yang diperbolehkan dan dilarang membuang sampah di TPS (tempat pembuangan sampah), diatur dalam Peraturan Walikota (Perwa) Pontianak Nomor 6 Tahun 2006; waktu pembuangan sampah dimulai pukul 18.00  hingga 06.00 WIB.

Berdasarkan data yang ada, paparnya,  jumlah  pelanggar Perwa Nomor 6 tahun 2006  sebanyak 1.042 pelanggar pada tahun 2012,  menurun tinggal 321 pelanggar  pada tahun 2013,  dan tahun 2014 hingga saat ini turun drastis  menjadi  65 pelanggar.

“Sudah banyak yang kita ajukan ke pengadilan. Banyak juga yang kita suruh buat pernyataan, sementara banyak yang menebang pohon tanpa izin – kita  suruh ganti serta penanaman kembali,”  tuturnya.

“Dan ternyata masyarakat Kota Pontianak bisa menaati aturan itu. Saya klaim delapanpuluh persen wilayah Kota Pontianak  sudah tertib aturan. Tinggal duapuluh persen lagi kawasan yang sedang  kami upayakan untuk tertib aturan,” ungkapnya pula.

Dengan tema “Mengubah Perilaku Masyarakat dengan Penerapan Peraturan Daerah (Perda)”, Sutarmidji memaparkan bagaimana Pemkot Pontianak menangani persoalan sampah dan sanitasi di lingkungan masyarakat.

Dijelaskannya, mengubah perilaku masyarakat dalam membuang sampah, yang pertama masyarakat harus diajak tertib dulu. Sampah yang diangkut oleh Pemkot adalah sampah yang berada di jalan-jalan dan pasar-pasar yang terdapat Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Pemkot juga menerapkan kebijakan dengan menggunakan TPS container, sehingga tidak ada TPS permanen. “Karena kalau TPS jumlahnya banyak di sepanjang jalan, itu akan memakan waktu memungutnya, menimbulkan polusi karena truk-truk pengangkut sampah harus banyak berhenti di TPS-TPS. Itu menguras bahan bakar dan tidak hemat energi dan lain sebagainya, sehingga kita menerapkan TPS dengan sistem kontainer,”  paparnya.

Demikian juga dengan para penebang pohon tanpa izin yang melanggar Perda Nomor 1 tahun 2010 pasal 14 (a), tak sedikit yang mendapat berbagai jenis sanksi. Mulai dari penggantian dan penanaman pohon kembali, pembongkaran jembatan yang dibangunnya, hingga sanksi tindak pidana ringan (tipiring) dengan denda mencapai Rp 1 juta.

Menurut data, jumlah pelanggar yang menebang pohon tanpa izin, tahun 2010 sebanyak 4 pelanggar, 2011 sebanyak 2 pelanggar, 2012 sejumlah 4 pelanggar, 2013 sebanyak 3 pelanggar. dan 6 pelanggar pada tahun 2014 hingga saat ini.

“Saya tidak pandang bulu menjatuhkan sanksi, siapa saja kalau melanggar aturan tetap mendapat sanksi,” tegasnya.

Begitu pun penanganan perbaikan sanitasi atau toilet masyarakat yang tidak layak, Sutarmidji menargetkan dua tahun ke depan toilet masyarakat sudah memenuhi standar.

Berdasarkan data, perbaikan toilet pada tahun 2013 sebanyak 1.200 toilet dengan nominal bantuan sebesar Rp 1,5 juta. Tahun 2014 sebanyak 53 toilet yang diperbaiki  dengan nominal bantuan sebesar Rp 2 juta. Dana tersebut bersumber dari APBD Kota Pontianak.

“Sehingga Kota Pontianak mencanangkan dua tahun ke depan bebas rumah kumuh, bebas rumah tidak sehat dan bebas toilet yang tidak sehat,” jelasnya.

Wali Kota Sutarmidji mengapresiasi Kementerian PU yang selalu memberikan bimbingan kepada para duta sanitasi dengan memberikan penyegaran seperti yang digelar saat itu.

“Sekarang yang kita tuntut apa yang bisa adik-adik buat, pemikiran apa yang bisa diwujudkan, untuk perbaikan-perbaikan sanitasi maupun yang lainnya. Kita  mulai dari yang bisa kita lakukan. Tujuan akhir kita adalah untuk perbaikan lingkungan dan tatakelola alam semesta ini,” pungkasnya.

Duta sanitasi (sanitasi; prilaku hidup bersih…., Red.bntime) adalah duta atau penyuluh sanitasi muda yang akan berperan aktif dalam pembangunan masyarakat peduli sanitasi secara berkelanjutan. Ia merupakan salah satu program yang dibentuk Direktorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PU yang  terdiri dari pelajar dan mahasiswa dari seluruh Indonesia.

Dipublikasikan oleh Humas Pemkot Pontianak tanpa menyebutkan tempat kegiatan diselenggarakan.*re-edit > bntime

 



Komentar anda:

komentar




Comments are closed.