Tempoyak, Si Penambah Selera Makan


Durian dan Sambal Tempoyak Goreng.(Foto: EAZ/"BoNuS")Durian dan Sambal Tempoyak Goreng.(Foto: EAZ/"BoNuS")
[ A+ ] /[ A- ]

“Bagi orang luar daerah Kalimantan dan Sumatera – khususnya Kalimantan Barat dan Sumatera Selatan, tentu terdengar asing dan aneh akan nama Tempoyak. Tapi bagi kedua daerah ini, Tempoyak merupakan lauk penambah selera makan nasi nan tiada tandingnya.” 

SEBELUM mengenal Tempoyak lebih jauh, ada baiknya kita mengenal terlebih dahulu asal – usul Tempoyak, yaitu buah durian.

Durian adalah buah berbentuk bulat dengan kulit keras berduri, sehingga mudah memberinya nama “duri-yan”, buah yang kulitnya berduri. Sementara orang Betawi menamainya duren.”

Kita mulai dari Kalimantan – khususnya Kalimantan Barat yang merupakan “sarang” tumbuhan daerah tropis – Durian (Durio Zibetbinus) yang hanya ada di Asia Tenggara itu.

Beragam jenis Durian terdapat di Kalbar. Sebut saja Durian Sungai Jawi dari Pontianak, Durian Balai Karangan (Kab.Sanggau), Durian Sambe’ (Kab.Landak), Durian Sibau (Kab.Kapuas Hulu) dll. Hampir seluruh kabupaten di antara 14 kabupaten kota di Kalbar adalah penghasil Durian.

Daerah lain penghasil durian al. Sumsel, Jambi, Bengkulu. Di belahan lain Asia tenggara; Thailan, Mindano (Filipina), Kamboja, Laos, Vietnam, India, dan Srilangka, juga Queensland – Australia.

Durian tidak hanya lezat dimakan buahnya saja, tapi bisa dibuat beragam penganan – seperti kolak yang dicampur durian, Lempok (sejenis dodol), atau Tempoyak yang akan “BoNuS” perkenalkan.

TEMPOYAK adalah daging buah durian segar yang diasamkan (difermentasi) sebagai lauk makan nasi. Keliru jika ada dugaan orang luar Kalimantan dan Sumsel beranggapan, bahwa Tempoyak berasal dari buah durian busuk.

Daging durian diadon dan diberi garam sekadarnya lalu dimasukkan ke dalam sebuah wadah yang ditutup rapat. Biasanya di simpan di dalam tempayan yang sudah dilapisi daun pisang.

Tiga – lima hari kemudian sudah boleh dinikmati sebagai lauk dengan rasanya yang asam-asam manis. Boleh dimasukkan cabe rawit sebagai pemedas waktu dihidangkan.

Tempoyak punya daya tahan berbulan-bulan karena proses fermentasinya, apalagi dimasukkan di kulkas.

Jika tak suka pada tingkat keasamannya, boleh diadukkan gula pasir pada awal pengadonan atau setelah jadi dengan perbandingan 1 : ¼ bagian gula atau sesuai selera.

Bila tak suka pada aromanya yang menyengat, Tempoyak boleh digoreng bersama udang laut dan dilarutkan cabai tumis, jadilah Tempoyak Goreng atau Sambal Tempoyak.

Lebih dari itu Tempoyak akan menjadi penyedap yang khas bila dimasak bersama lauk asam pedas ikan.
Di Pontianak terkenal dengan asam pedas ikan air tawar Kakap, Belida, atau Lais, dan yang paling disukai adalah bagian kepalanya.

Daerah lain yang kenal Tempoyak adalah juga daerah penghasil durian; Sumsel, Jambi, dan Bengkulu. Maka ada Tempoyak Jambi, Tempoyak Bengkulu, atau Tempoyak Palembang.

Di Kalbar sendiri terkenal Tempoyak Sukadana (Kab.Kayong Utara) dan Tempoyak Kapuas Hulu. Tempoyak di pasaran Kota Pontianak bila musim panen raya buah durian (antara September – Desember), berkisar antara Rp.30.000,- – Rp.50.000,- / Kg. Sekarang mencapai Rp.60.000,- – Rp.75.000,- / kg.

Supaya seteril, lapisisilah keduabelah tangan Anda dengan plastik atau sarungtangan plastik tipis, ketika memisahkan daging durian dengan bijinya. *BoNuS*

 



Komentar anda:

komentar




Comments are closed.